Social Icons

Pages

HIDUP itu terlalu INDAH untuk ditangisi, tapi juga terlalu PAHIT untuk dinikmati...
TAPI hidup akan sangat BERMAKNA jika di HARGAI

Sabtu, Januari 28, 2012

Gizi yang Baik Bagi Vegetarian

Vegetarian adalah sebutan bagi orang yang hanya makan tumbuh-tumbuhan dan, tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging dan unggas, namun masih mungkin mengonsumsi makanan laut seperti ikan, atau produk olahan hewan seperti telur, keju, atau susu.


Jenis-Jenisnya :

1. Semi-Vegetarian
Semi-Vegetarian, di samping makan makanan dengan bahan nabati. Kelompok ini juga mau makan ikan, daging, susu, dan telur. Jenis nabatiwan ini adalah kelompok yang paling rendah.

2. Lacto-ovo-vegetarian
Lacto-ovo-vegetarian, selain makan yang terbuat dari bahan nabati juga dimakan, susu dan telur juga dimakan.

3. Lacto-vegetarian
Lacto-vegetarian, meski selain bahan nabati yang dimakan tetapi hanya susu yang dimakan dan makanan yang terbuat dari telur tidak dimakan.

4. Ovovegetarian
Ovovegetarian, kelompok nabatiwan ini merupakan kebalikan dari Lacto-vegetarian.

5. Vegan
Vegan merupakan kelompok nabatiwan yang paling ketat. Mereka hanya mau bahan makanan dari nabati saja dan sama sekali tidak memakan hewan laut atau produk olahan hewani. Bahkan madu dari lebah pun dihindari. Saking ketatnya, para vegan juga menentang penggunaan produk non-makanan yang berasal dari hewan, seperti pakaian dan sepatu, dan produk yang diujicobakan pada hewan seperti beberapa jenis kosmetik dan obat-obatan..


--> Manfaat menjadi vegetarian

Menurut penelitian di Amerika, para nabatiwan lebih sehat, panjang umur, bahkan awet muda. Mereka juga terhindar dari penyakit jantung. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa serat dalam sayur dan buah amat berguna bagi kesehatan yang mengakibatkan populernya vegetarianisme di dunia. Diet vegetarian telah menunjukkan efek menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, dan mencegah terjadinya hipertensi pada orang normal. Penelitian juga menunjukkan wanita vegetarian yang telah memasuki menopause akan berkurang resiko penyakit jantung, kanker endometrium dan kanker payudara dibanding wanita dengan diet normal. Masakan Vegetarian merupakan jenis-jenis masakan yang menggunakan bahan-bahan nabati, atau non hewani yang tidak menggunakan daging sebagai bahan masakannya.


--> Food Vegetarian Pyramid


keterangan lebih lanjut klik di sini


--> Masakan bagi vegetarian

Variasi masakan vegetarian berkembang menjadi tidak hanya menggunakan sayuran sebagai bahan utama untuk memasak, namun sekarang telah dikembangkan bahan makanan vegetarian, yakni berupa hasil olahan tepung, atau jamur yang dapat membentuk semacam daging-dagingan seperti daging asli. Daging vegetarian ini ditujukan untuk membantu proses adaptasi seseorang yang akan menjalani diet vegetarian.
Alasan orang-orang bervegetarian adalah karena kesehatan. Dengan hanya mengonsumsi sayur-sayuran, risiko kita terkena penyakit berbahaya sangatlah kecil. Ada juga yang bervegetarian karena ingin tampil lebih cantik, ingin memiliki kulit yang halus dan bersih. Tidak hanya itu saja, bervegetarian juga dapat mengurangi pemanasan global yang ada di muka bumi ini. Industri peternakan menjadi salah satu penyebab pemanasan global di bumi dan juga menyumbang polusi yang cukup banyak, khususnya polusi udara. Selain pemanasan global dan polusi yang dihasilkan dalam industri, polusi juga dihasilkan dari proses pembuatan makanan bagi hewan.

»»  READ MORE...

Jumat, Januari 27, 2012

Baca Juga....

»»  READ MORE...

Baca Juga....

»»  READ MORE...

ORDINARY or The Extra ???: TERNYATA KAMU CINTAKU

»»  READ MORE...

TERNYATA KAMU CINTAKU



Mentari pagi tak terasa kini kembali memancarkan sinarnya. Menembus kaca jendela kamarku yang masih tertutup tirai putih yang tipis. Cahayanya yang begitu terang menyusup ke sesisi ruangan hingga ke sudut-sudut ruangan. Ayam jantan yang berkokok sedari fajar mungkin iri pada mentari ini. Karena suaranya yang nyaring tak sanggup menggoyahkan mataku untuk terbuka. Sedangkan mentari yang baru saja terbit telah sanggup membangunkanku dan memaksaku untuk bangkit dari tempat ini.
Akupun bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kaki menuju wastafel di dekat jendela kamar dan membasuh wajahku. Aku menumpukan tanganku di pinggiran wastafel dan melihat kaca. Aku hanya dapat melamun sejenak dan berusaha mengumpulkan kesadaranku yang tercecer-cecer karena ulahku semalam.

“Huffh.” Aku melenguh panjang.

Aku menghidupakan air keran wastafel ini dengan derasnya dan mencelupkan kepalaku ke dalam wastafel selama beberapa menit. Kemudian aku mengangkan kepalaku kembali dan mengambil handuk di sebelah kiri wastafel untuk kemudian mengelap air di rambutku.

Aku terduduk di lantai di ujung ranjang di kamarku dengan rambut yang basah dan masih meneteskan sisa-sisa air di ujungnya.

Tok.. tok.. tok..

Terdengar suara ketokan pintu. Dengan langkah malas aku menuju ke pintu dan membukanya.

“pagiiiii. Pasti kamu lapar deh. Aku bawa makanan nih.”
Dia langung menuju ke meja makanku yang terletak di sebelah ruang tamu.

“aku udah belanja ini semua dari tadi pagi. Karna di sini gak ada kompor jadinya aku beli makanan instan semua. Gak apa-apa kan. Ah lagian kamu juga selama ini doyannya makanan instan.” Katanya seraya menyiapkan beberapa hidangan untuk sarapan.

“nih makan.” Dia menyodorkan mie gelas lengkap dengan kentang goreng, dan kornet siap saji. “dan ini minumnya.” Dia kembali menyodorkan segelas susu murni ke hadapanku.

Aku menyendok mie dan kornet terlebih dahulu.

“lo gak makan?” tanyaku.

“aku udah makan tadi sebelum berangkat ke sini. Jadinya aku sarapan dulu, trus
belanja, trus ke sini. Dari tadi malem aku kepikiran kamu terus. Kata Hendi kamu diajakin Maria mabuk ya?”

Aku mengangguk sekali.

“kenapa?”

“gue kesal.”

“sama Lusi?”

Aku mengangguk.

“udahlah. Lusi tuh gak usah kamu pikirin lagi. Lagian dia juga pasti bahagia kok. Kamu dapet undangannya kan?”

Aku mengangguk.

“aku tahu ini mungkin sulit buat kamu. Tapi setidaknya kamu kan masih punya sahabat yang masih juga peduli sama kamu.”

“gue gak habis pikir kenapa Lusi bias setega itu ninggalin aku.”

“tapi setidaknya dia udah jujur kan sama kamu. Dia gak ngebohong kayak cewek-cewek lainnya. Yang alesannya misalnya pindah kuliah ke luar negeri lah, di suruh ortu tinggal di rumah tante yang ada di luar kota lah, atau apalah. Tapi Lusi jujur. Dia .. dia tetep jujur sama kamu.”

“iya. Bener dia jujur. Dia jujur kalo selama ini aku Cuma di jadiin selingkuhannya dia dan gue sebagai laki-laki gak terima. Ini namanya merendahkan harga diri gue. Okeh sekarang dia jujur. Tapi selama ini apa? Artinya gue dibohongin kan selama satu tahun. Dan gue harus menganggap dia baik Cuma karna di jujur sekarang.” Aku berdiri dan menghentakkan sendok dan garpu yang sedang kupegang.

Wajahnya merah menahan amarah. Dan bangkit dari tempat duduknya.

“okeh. Kalo elo emang marah sama Lusi. Fine! Gak usah marah-marah juga sama gue dong.”

Diapun beranjak pergi meninggalkan apartemen ini dan meninggalkan aku yang masih tertegun di depan meja makan ini.
Ya! Dia sahabatku. Mungkin satu-satunya sahabatku yang masih mau memikirkanku ketika aku sedang terpuruk seperti saat ini. Namanya Nayla. Tapi aku memanggilnya kucing. Karena matanya seperti kucing. Berbinar dan selalu ingin tahu. Cerah dan menyenangkan. Dan pagi ini aku telah membuat mata kucingnya yang indah itu memerah padam. Membuncahkan amarah.

15 menit berlalu. Aku hanya terduduk diam mengalah pada nasib.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara handphone.






Aku buka pesan singkat itu.




























Aku tersenyum membaca pesan singkat itu. Ternyata Nayla masih peduli padaku. Aku bergegas ke kamar mandi dan menuruti perintah Nayla untuk segera mandi.
Ketika aku keluar dari ruang pakaian. Aku melihat Nayla sudah duduk di sofa ruang tamu apartemenku.

“sejak kapan elo di situ?”

“dari tadi.” Katanya sambil tersenyum.
Mata kucingnya kali ini kembali berbinar-binar memancarkan keceriaan.

“udah gak gila lagi kayak tadi kan?”

Aku tersenyum dan menghampirinya. Aku duduk di sampingnya dan tersenyum lagi.

“menurut kamu?”

“kayaknya udah waras nih.”

Dan kamipun tertawa bersama.

“jalan-jalan yok, vin.”

“ke mana?”

“kemana aja. Aku bosen di rumah terus. Udah seminggu ini aku gak ada jalan-jalan kemana gitu.”

“bukannya tadi pagi udah jalan-jalan waktu beli belanja buat gue.”

“ah itu sih bukan jalan-jalan namanya. Aku pengen ke taman atau ke danau gitu.”

“okeh. Yok! Gue juga mau refreshing.”

Kami berdua pun beranjank menuju tempat parkir mobil milikku.

“kita ke mana nih?” Tanya Nayla penasaran.

“ke taman yang waktu itu gue tunjukkin sama lo. Mau?”

Nayla mengangguk dan tersenyum.

Setelah perjalanan selama 20 menit akhirnya kami sampai di sebuah danau. Pemandangan di sekitar danau ini tidak banyak berubah. Hanya beberapa pohon saja yang mulai gugur daun-daunnya yang coklat dan kering.
Aku dan Nayla duduk di tepi danau. Menikmati udara sekitar yang sejuk dan damai.

“Nay, bulan depan gue mau nyusul nyokap sama bokap gue ke Sidney.”

“liburan ya?”

“bukan Nay, bokap nyokap gue nyuruh gue pindah ke sana.”

Nayla menoleh dengan ekspresi kaget.

“kuliah kamu gimana?” tanyanya seperti tidak percaya. “kamu mau berhenti kuliah
gitu. Apa ini semua karna Lusi. Kevin, please…!”

“enggak Nay. Ini gak ada hubungannya sama Lusi. Nyokap gue udah lama nyuruh gue pindah ke Sidney. Tapi waktu itu Lusi gak izinin. Tapi sekarang karna udah gak ada lagi yang ngelarang gue jadi gue bakal ke Sidney. Gue bakal kuliah di sana.”

Nayla Cuma diam dan menatap lurus ke arah danau.

“gue ke sana buat belajar tentang perusahaan keluarga gue juga kok. Bokap gue pengen gue yang jadi penerus Plamitra Group.”

“kapan berangkatnya?”

“mungkin minggu depan. Itu kalo gak ada hambatan.”

“udah kamu urus semua keperluannya.”

“belum Nay.”

“kamu mau berangkat minggu depan tapi keperluan buat pindah belu juga kamu urus.”
Nada suara Nayla meninggi.

“kamu mau bantuin kan?”

Nayla menarik nafas panjang. “Okeh.”

Satu minggu berlalu. Tibalah saatnya aku berangkat ke Sidney.

“Nayla angkat dong.” Aku panik berbisik pada diriku sendiri.

Tuuttt… tuuutttt…. Tuuuuttt….

Yups di angkat, pikirku.

“halo Nay. Elo di mana? Elo tau kan kalo hari ini gue berangkat ke Sidney. 5 menit lagi gue take off nih.”

Tidak ada jawaban apapun dari seberang telepon.

“Nay, Nay. Elo di sana kan. Nay……”

Tut tut tut tut tut tut…..

Telepon terputus tiba-tiba. Ku cek pulsa mungkin saja habis. Ah! Masih cukup.
Pandanganku menerawang ke langit-langit bandara. Aku harus segera ke pesawat.

********************************

Dua jam kemudian aku sampai di bandara.

15 menit kemudian aku telah sampai di apartemen milik orang tuaku. Aku di sambut dengan gembira oleh mereka.

“ouh honey. Lets take a rest on your bedrooms fast. You look so tired. Sorry momma could’nt pick up you on airport. There was much work those I had to
finished.”

“it’s okay mom. I’m fine now.”

“you know honey. I miss you soo much.” Dan mama memelukku erat.

“I miss you too, mom.”

Aku menuju ke kamar yang telah dipersiapkan mama. Membenahi isi koper dan memindahkannya ke lemari yang desainnya menyatu dengan dinding. “Oh ini lemari ya, aneh sekali.” Pikirku.

Ketika sedang mengeluarkan barang-barang dari dalam koper tiba-tiba aku melihat sepucuk amplop biru terselip di antara lipatan-lipatan pakaian. Dengan rasa penasaran ku buka amplop itu dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. “ini surat.” Pikirku.



Aku sama sekali tidak menyangka bahwa perhatian Nayla selama ini adalah lebih dari apa yang kubayangkan, aku menyesal telah terlau mencintai orang yang seharusnya kulupakan, sementara ada orang yang selama ini sanggup untuk menerimaku tapi aku tidak menyadarinya. Apa karena aku terlalu takut untuk membuka hati? Atau karena aku tidak memperhatikan sekelilingku padahal sehari-hari mereka bersamaku?

“Keviiiiin. Ayo makan malam saying. Makanannya udah mom siapin.”
Aku kembali merenung sambil mengenggam surat itu. “Ya, mom. Five minutes later.” Mataku berlinangan. Kumenutup mata dan butiran-butiran berat itu menetes. “Aku lelaki, tak sepantasnya begini.” Batinku.

"Kev, what wrong with u dear? Any problem? Uhm,..u can tell it to mom… but, but if u want.”
Aku hanya diam, lalu mencoba berkata-kata. “mom, uhm… gini. Kevin punya sahabat…. Uhm, a girl.”

“ouh, yeah, yeah, I know.”

“no, no mom, not girlfriend.”

Mama menatapku tajam. “so?”

“only friend mom. Best friend. Dia kirim surat ini buat Kevin.” Aku mengulurkan surat dari Nayla kepada mama.

Mama membacanya dengan seksama dan “mama juga wanita, sayang. Mama tahu apa maksudnya ini. Wanita memang tidak harus mengatakan bahwa dia menyayangi seseorang, tapi wanita tetap punya kekuatan untuk memberikan kasih sayangnya. Kalau kamu tidak ingin mengecewakannya. So you must to come back to Indonesia. Meet her! Say what you wanna to say. I know you are a gentleman.”
***

Nayla Farissa

“Desain kamu sangat bagus, menarik dan persuasif. Saya setuju saja bila rekan-rekan saya juga setuju.”

Semua anggota rapat saling berpandangan kemudian mengangguk-angguk tanda setuju.

Prok. Prok. Prok.

Terdengar suara tepukan tangan dari seisi ruang rapat.

“Saya senang sekali bekerja sama dengan orang yang sangat kreatif dan sangat professional seperti saudari Nayla ini.”

“Ah pak Sigit terlalu berlebihan. Saya kan cuma menerapkan apa yang bapak inginkan dari banner itu. Itu saja kok. Kebetulan mungkin kita satu selera jadinya bagus gitu kelihatannya.”

“Ahahaha.. kamu mahasiswa yang hebat. Makanya saya suka sekali bekerja sama dengan mahasiswa, mereka begitu bersemangat. Oya, saya masih ada kerjaan lagi.
Good luck ya. Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi.” Senyumnya mengembang seiring dengan jabatan tangannya.
***

Saying I love you, it’s not the word that…..

Nada dering handphoneku berbunyi.






Klik.

“Hallo.”

“Kucing jelek, selamat ya desain advertising banner lo diterima. Gue barusan baca dari status facebook lo.”

“Oh ya. Makasih, Kev.” Aku menjawabnya dengan lesu.

“Uhm. Gue pengen ketemu lo Nay. Gue tunggu di tempat biasa. Jam berapapun lo dateng gue bakalan tunggu.”

“Bukannya kamu di……”

Tut. Tut. Tut. Tut. Tut…….

Telepon terputus.

Air mataku berlinangan jika harus menghadapi semua ini. bagaimana mungkin aku sanggup. Aku malu. Surat itu? Apakah Kevin sudah membacanya? Dan dia pulang ke Indonesia cuma untuk menertawakanku? Konyol sekali.
***

Kevin Palmitra

Aku melihat seseorang di depan bangunan ini. sedang berdiri lalu mondar-mandir perlahan. Seperti sedang memutuskan akan masuk atau pulang saja. Tangannya kini menggapai gagang pintu, agak lama dan lesu kemudian mendorong pintu yang bertuliskan ‘push’ itu. Aku tetap memperhatikannya. Langkahnya kini pasti, seperti hendak menghadapi perang. Dia menuju meja di hadapanku lalu duduk di bangku tepat di depanku.

“Kenapa ke Indonesia lagi. Gak nyampe Sidney? Nyasar? Atau udah gak bisa lagi bahasa inggris jadi gak diterima di Sidney? Heh?”
Aku tersenyum dihujani dengan pertanyaan-pertanyaannya yang kadang-kadang konyol dan tak terduga.

“Mama nyuruh gue balik ke Indonesia.”

“Kok gitu? Mama kamu kan yang nyuruh kamu ke Sidney?” dia mengernyitkan dahi, heran.

“Gue udah baca surat lo, mama juga, makanya mama saranin gue balik ke Indonesia.”

“Surat?”

“Iya, surat biru di koper? Dari elo kan?”

“Uhm itu, itu, aku, aku,” dia diam sejenak lalu berkata lagi, “pasti kamu mau ngetawain aku kan. Aku emang gak bisa bikin kata-kata bagus jadi…. Aku minta maaf, aku, aku, dari pada kamu ngetawain aku mending aku balik. Aku ada urusan, jadi mendingan aku cepet pulang. Daaghh..” Nayla cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya. Aku kemudian menahan tangannya.

“Nay, duduk dulu. Gue tahu lo lagi gak sibuk apa-apa. Elo ambil cuti kuliah kan.”
Nayla lalu kembali duduk.

“Dari mana kamu tahu?”

“Ahahaha. Lo sendiri yang cerita waktu itu mau ambil cuti kuliah.”

“Ooh. Aku lupa.”

“Nay. gue sangat menghargai perasaan lo. Gue kagum sama elo yang bisa sayang sama orang walau orang itu gak sadar sama perasaan elo. Kalo gue jadi elo mungkin gue gak akan kuat.” Semua kata-kata itu seolah terucap begitu saja.

“Kamu ngomong apa sih, Kev.”

“Nay gue tahu. Gue emang bodoh karena selama ini gue cuma mikirin hal yang harusnya gue lupain. Gue gak, gak tahu, gue dibikin buta sama perasaan gue sendiri.”

“Please Kev! Kamu ngomong apa sih. Aku gak ngerti.”

“Gue minta maaf Nay.”

“Soal surat itu lagi?”

“Iya Nay. gue gak pernah sadar sama lingkungan gue. Gue cuma mikirin diri gue sendiri.”

“Kalo soal surat itu. Gak, gak, Kev. Harusnya aku yang minta maaf. Gak seharusnya aku bikin surat itu. Ini salah, ini salah. Aku, aku…..” suaranya lemah, tercekat, matanya berlinang, wajahnya merah muda, padam. Menunduk.

Aku menggenggam tangannya, erat, erat sekali. Dia menganggkat kepalanya, tak berkata-kata. Suasana kini semakin serius.

“Gak ada yang harus disalahin karena emang gak ada yang salah. Kita gak harus mulai ini dari awal. Karna kita bisa lanjutin hidup kita kayak biasanya. Tapi ini bakal jadi lebih serius lagi. Gue akhirnya sadar kalo ternyata gue gak sendirian.”

Aku menatap matanya. Dalam, dalam sekali. Tulus, itu yang dapat kulihat dari matanya. Mata kucingnya yang bening terlihat sangat jujur. Nayla! wanita ini kini buatku gila dan sangat yakin bahwa masih ada cinta dalam diriku untuk kupersembahkan bagi orang-orang yang telah rela menyayangiku.

Begitu banyak hal yang tak sanggup kami katakan dengan lisan saat ini. hanya saling menatap dan mengeti. Aku menyentuh wajahnya. Hangat. Dan kini senyumnya begitu sejuk.


Morral Lesson :
Sering kali kita dibuat lesu dan putus asa atas kepergian orang yang kita sayangi. Malahan kita lebih memilih untuk berlarut-larut salam kesulitan dan kesedihan yang kita pertahankan. Kemudian tidak mempedulikan orang-orang di sekitar kita, bahkan terlanjur tidak memperhatikan perasaan mereka. Padahal sebetulnya kasih sayang dari mereka lah yang membuat kitadapat bertahan sejauh ini.



Rima Nove1lta, January, 08 2011;04.30pm
»»  READ MORE...