
Tap tap tap tap…
Hosh hosh hosh hosh…
Aku melihat sekeliling. Setelah berusaha berlarian hingga mencapai lantai empat gedung ini. Aku sempat mengumpat tempat ini dalam hati, “dasar kampus tua, lift saja bisa rusak.” Akhirnya aku berhenti di depan sebuah bangku kayu panjang bercat coklat tua yang terletak di depan tangga. Aku langsung menuju bangku itu dan terduduk. Aku tersenyum melihat sebuah telepon genggam berwarna hitam yang ada di sampingku.
“Nih pakai.” Dan sekarang dia menyuruhku untuk memakai helm. What????
“Arrgggghhhhhh!” batinku berteriak.
“Akhirnya kamu ketemu juga.” Seruku seraya mengambil telepon genggam itu.
Aku sangat berterimakasih sekali pada Tuhan yang telah menjaga ponselku. “Dasar otak tulalit.” Kataku dalam hati seraya menjitak kepalaku sendiri. Aku masih memeluk erat ponselku di dada dengan terus tersenyum.
Tiba-tiba aku merasa seperti mendengar suara sesuatu. Sangat lembut, dan menyayat. “Suara apa itu?” Pikirku. Suasana sekitar kampus dari lantai satu sampai lantai empat memang agak sepi, dari tadi aku hanya melihat beberapa orang saja yang melintas di depanku. “Jangan jangan…” Eih! Aku bergidik membayangkan hal-hal yang aneh-aneh. Aku memang pernah mendengar cerita tentang ‘penghuni’ kampus ini. Dan kata orang di setiap bangunan pasti ada ‘penghuni’nya apalagi bangunan kampus sebesar ini yang kelihatannya sudah sangat tua dan usang. Aku mencoba mendengarkan lagi suara apa itu. Kucoba menajamkan pendengaranku. Suara itu semakin tajam dan menyayat. Dan dengan gaya sok berani aku mencoba menelusuri darimana datangnya suara lembut itu.
Selangkah demi selangkah lorong di lantai empat ini kutelusuri. Dan aku terhenti di depan pintu sebuah ruang ekskul. Kupegang gagang pintu dengan tangan kananku yang sudah mulai berkeringat dingin. Kucoba membuka pintunya perlahan. Setelah pintu itu terbuka sedikit kudengar suara itu semakin terdengar jelas dan berubah menjadi suara yang indah. Ku buka pintu itu sepenuhnya. Aku melihat seorang laki-laki yang mengenakan jaket coklat muda hoodie bermotif graffiti dengan padanan celana jins biru sedang duduk di sebuah bangku putar yang tinggi sambil mengayunkan biolanya. Aku sungguh terpukau dan hanya diam saja, berdiri mematung memandangi laki-laki itu. “Wow!” teriakku dalam hati.
Kemudian dia mengakhiri permainan biolanya dengan sangat indah.
Prok prok prok prok…
Aku refleks bertepuk tangan dengan keras sambil tersenyum. Menyadari bahwa ada yang menguping permainan biolanya sejak tadi, dia bergegas turun dari kursi dan memasukkan biolanya ke dalam tas kemudian segera pergi berlalu tanpa menoleh ke arahku yang hanya dapat berdiri mematung.
“Kenapa ya?” tanyaku dalam hati. “Apa aku salah?” batinku kembali bertanya. “Kalau memang salah aku harus minta maaf.” Aku bergegas keluar ruangan ekskul, menutup pintunya dan berlarian mengikuti laki-laki itu. Dia turun ke lantai tiga, kemudian ke lantai dua, kemudian ke lantai satu, aku tetap mengikutinya. Berharap aku punya keberanian untuk mengatakan maaf kepadanya. Dan kini aku mengikutinya hingga ke…
“Hey, ini toilet cowok. Toilet cewek di situ. Kecuali kamu udah ganti kelamin. Hahahaha…..” tegur seorang cowok sambil terus tertawa kemudian pergi.
Aku kemudian hanya menunggu dia di samping pintu toilet pria sambil senyum-senyum sendiri, “mungkin tuh cowok kebelet ya, makanya cepet-cepet ke toilet.”Pikirku. Namun aku tetap harus meminta maaf padanya dan berharap dia cepat-cepat keluar. Yes! dia keluar juga.
“Eh, hey.” Aku berusaha menyapa.
Dia menoleh namun tidak mengatakan apapun. Aku benar-benar terkejut melihat wajahnya. Tidak menyangka bahwa yang sedari tadi kukejar adalah dia.
“Ehm… gini. Ehm…” Aku berusaha bicara tapi ternyata susah sekali. Oh Tuhan kenapa aku begitu bodoh begini. Tidak biasanya. Apa karena dia tampan? Oh tidak tidak tidak bukan itu.
“Kalau tidak ada yang terlalu penting lebih baik jangan menyapa.” Dia berkata dengan gayanya yang sangat dingin.
“Eih.” Aku kaget hingga tak sanggup bicara.
Dia hendak pergi dan aku menahannya. “Tunggu.”
“Aku tahu dari tadi kamu ngikutin aku. Kenapa? Mau jadi mata-mata? Buat apa? Ngapain?” tiba-tiba di menyerbuku dengan begitu banyak pertanyaan.
Aku berusaha memberanikan diri untuk berkata. “Aku minta maaf.” Yah! Hanya itu.
“Maaf? Untuk apa?” dia terlihat bingung dan mengangkat sebelah alisnya.
“Gini, mungkin aku udah gangguin kamu main biola. Tapi aku suka banget sama suara biola kamu. It’s awesome! Nice and delicious.” What? Apa sih yang udah aku omongin. Delicious? Memangnya makanan.
Dia tersenyum kemudian berkata, “Jadi karna itu kamu ngikutin aku dari tadi?”
Aku hanya mengangguk-angguk.
Tiba-tiba dia menarik tanganku dan terus berjalan.
“Hey. Kamu ini kenapa? Hey lepasin tanganku. Kita mau kemana? Hey?” aku terus berteriak tapi dia tetap menarikku pergi.
Eih! Aku kaget! Parkiran? Ngapain? Aku kan gak bawak kendaraan. Bingung!
Lalu dia mengenakan helm biru tuanya kemudian naik ke motor merahnya yang besar.
Wow! Dia tambah keren!
“ Nih tolong bawain.” Dia menyerahkan tas biolanya kepadaku.
Aku masih tidak mengerti. Dia ini kenapa? Ya sudah mungkin dia minta aku membantunya untuk membawakan biolanya atau mungkin menitipkannya padaku. Tapi kenapa? Benar-benar aneh.
“Nih pakai.” Dan sekarang dia menyuruhku untuk memakai helm. What????
“Apa? Bawa biola kamu dan sekarang pakai helm. Kamu mau menghukum aku ya karna udah gangguin kamu main biola. Iya?”
“Siapa yang mau menghukum kamu. Aku mau ngajak kamu pergi.”
“Apa? Kamu mau culik aku ya?” aku setengah berteriak.
“Nyulik kamu? Cuma orang gila yang mau nyulik orang kayak kamu.”
“Emangnya aku orang kayak apa?” aku benar-benar marah sekarang.
“Udah deh pake aja helmnya dan kita pergi.”
Aku memalingkan wajahku, “Aku gak mau pergi sama orang yang gak aku…… kenal.”
Aku mengatakannya dengan menahan peluh.
Dia mengulurkan tangannya, “Jadi kita belum kenal ya. Okeh kenalin, aku Kevin. Pasca sarjana Arsitektur.” Dia mengucapkannya seperti orang tersedak, sangat sulit.
Dengan sedikit ragu-ragu aku menyambut uluran tangannya untuk berjabatan dan menghela nafas panjang, “Ari, pasca sarjana Manajemen.” Dan buru-buru melepas jabatan tangannya.
“Okey. Kita udah saling kenal dan sekarang ayo kita pergi.”
Dengan enggan akhirnya aku mengenakan helm ini.
“Kita mau kemana sih?”
***
“Kamu pasti tahu kita mau ke mana nanti.”
Dasar sok misterius. Kalau sampai dia macam-macam sama aku, bakalan aku sumpahi dia sial tujuh turunan.
Dan akhirnya kami sampai di sebuah padang rumput yang hijau dengan sebuah telaga jernih di tengahnya. Aku melihat beberapa batang pohon yang turut menghiasi tempat ini. Aku langsung menuju telaga yang ada di depanku. Menyentuhkan tanganku ke airnya yang begitu sejuk. Aku dapat melihat pantulan wajahku pada air tersebut. Juga pantulan bayangan dari pepohonan di sekitarnya. Aku dapat melihat ikan-ikan kecil berenang ke sana kemari bersama kecebong-kecebong yang panjang ekornya. Sangat menawan. Ada juga di ujung sana beberapa ekor katak sedang melompat-lompat di atas daun-daun teratai yang lebar. Tapi sayangnya bunga teratai itu sedang kuncup. Mungkin lain waktu dia akan mekar dengan indahnya.
Tiba-tiba Kevin datang dari belakang dan memecah lamunanku, “Kamu masih suka tempat ini?”
Aku memandangnya bingung, “Aku bahkan sama sekali belum pernah ke sini, tapi…. Aku suka.”
Kevin lalu duduk disampingku, sambil melemparkan beberapa batu-batu kecil ke tengah telaga. “Dulu, waktu masih SMA aku sering banget ke sini sama temenku. Namanya Nadia. Dia Cantik, baik, periang, cerewet, dan aku sayang banget sama dia. Ditelaga ini biasanya kita sering menghabiskan waktu dari siang pulang sekolah sampai sore. Telaga ini udah kayak surga pribadi buat kita, karna jarang ada orang yang mau berkunjung ke sini. Soalnya tempat ini gak terkenal.”
Dia tertawa kecil lalu kembali bercerita.
“Dia sangat suka suara biola, makanya aku mati-matian belajar biola supaya bisa menghiburnya. Tapi dia pergi sebelum aku benar-benar bisa memainkan biolaku. Dia pergi ke luar negeri karena orang tuanya harus pindah ke Belanda dan dia harus ikut. Dua bulan dari kepergiannya aku kehilangan kontak, tiba-tiba aku mendengar kabar bahwa dia kecelakaan, dia amnesia. Yang membuat aku sedih, dia lupa sama semua kenangan masa lalu kami. Dia lupa sama aku, lupa sama tempat ini. Tapi aku akan tetap mencintai dia. Karna aku yakin, dia pasti bisa sembuh. Aku tidak pernah berusaha untuk melupakannya. Bahkan bertahun-tahun aku mencari dia dan berharap dia menyukai permainan biolaku sekarang.”
Dia berhenti sejenak lalu meneruskan ceritanya,
“Hari ini aku bersyukur, dihari pertamaku kuliah pasca sarjana ini, aku bertemu dengannya dan dia menyukai suara biolaku. Sebetulnya aku tidak sanggup untuk menyapanya, hanya saja aku benar-benar merindukannya. Tapi……. ketika aku menemukannya. Aku bahkan harus berkenalan lagi dengannya. Itu yang membuatku serasa hancur.” Dia menatapku dengan matanya yang sendu.
Aku tetegun mendengar ceritanya. Aku merasa heran, kenapa dia menceritakan masa lalunya pada orang yang baru dikenalnya sepertiku. Dan kenapa aku mau-maunya diajak pergi begitu saja dengannya. Namun, entah kenapa aku seperti merasakan apa yang dirasakannya dan ingin sekali menghiburnya.
“Nama temen kamu itu Nadia?” tanyaku.
“Iya. Kenapa?”
“Gak apa-apa.”
“Oh iya, Boleh aku tahu nama lengkap kamu, Ari?”
“Nadia Prameswari.” Jawabku singkat.
Dia menutup matanya kemudian menarik nafas panjang.
Tiba-tiba saja, aku merasa seperti begitu akrab sekali dengan tempat ini. Udaranya, ikan-ikannya, dedauan yang gugur, semuanya seakan benar-benar menyambut kedatanganku. Rasanya, seperti aku pernah ke sini sebelumnya.
***
Rima Novelta, September 3, 2011;04.35pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar