Kami adalah ikan-ikan kecil yang hidup dilautan luas. Sangat mudah bagi predator manapun untuk menelan kami hidup-hidup atau sekedar dijadikan makanan penutup. Tapi satu hal yang kami yakini, bahwa kami mampu bertahan.
Ketika itu kami melihat ada seekor ikan lain yang sedang berenang. Ikan itu telihat kebingungan menentukan arah, kemana ia hendak berenang? Kami tidak pernah melihat ikan bentuk itu sebelumya. Dia coba memperhatikan kami yang diam-diam mengamatinya. Lalu dia mendekat. Saat itu aku sendiri berpikir, “apakah benar bahwa semua aliran sungai yang tenang pada akhirnya akan meneruskan alirannya hingga ke laut yang begitu lepas sehingga seekor ikan sungai tiba-tiba bisa berenang di lautan ini?” Ikan yang baru saja mendekati kami berasal dari sungai yang selama ini kami anggap tenang dan santai. Kami tidak tahu apakah ia tersesat atau terusir dari sungai. Kami tidak paham.
Hari demi hari, tanpa kami sadari ternyata kami semakin akrab saja dengan ikan sungai ini. Namun keakraban yang terjalin ini terjadi tanpa seorangpun yang menyadari akan hal itu. Semua seperti mengalir begitu saja. Kami ingat betul akan sesuatu yang ia bawa ketika ia datang ke lautan ini. Sebuah luka.
Aku sempat berpikir apakah ikan ini dapat bertahan di tengah lautan lepas yang setiap saat dapat saja dengan mudah menghempas tubuhnya ketika ombak datang atau nelayan yang sedang memasang jaringnya yang besar. Laut bukan tempat yang tepat untuk ikan yang sedang terluka sepertinya. Predator dan hantaman karang harus siap dihadapinya kapan saja. Lalu Apakah ikan ini dapat beradaptasi dengan kondisi air laut yang jelas berbeda dengan air sungai. Asin. Asin dapat berupa simbol kegetiran hidup. Terlebih saat itu ia sedang terluka. Pernahkah ada yang mencoba menyiram lukanya atau meneteskan air ke kulitnya yang terluka dengan air garam? Rasanya sungguh pedih. Aku rasa ikan ini salah tempat. Harusnya ia pergi saja ke telaga yang damai untuk mengobati lukanya. Namun aku melihat ini bukan pilihannya, kebetulankah ia ada di laut ini? Aku pun tidak paham.
Seperti air yang terus saja mengalir tanpa hambatan. Kami –ikan-ikan laut dan seekor ikan sungai- merasa semakin dekat. Kedekatan yang lagi-lagi tidak di duga.
Kami pernah mengatakan bahwa, “alangkah beruntungnya kalian ikan-ikan sungai bisa tinggal di tempat setenang dan sesejuk itu. Di sungai. Kami mungkin hanya bermimpi untuk bisa ke sana.”
Namun kemudian Ikan sungai itu bercerita bahwa sungai yang ditinggalkannya tidaklah setenang dan sesejuk yang kami bayangkan selama ini. justru sungai itulah yang telah membuatnya terluka. Tepatnya ikan-ikan lain yang ada di sana. Apa sebabnya kami tidak paham. Namun perlahan-lahan kami mencoba berusaha mengerti.
Kian hari ikan sungai itu kian menunjukkan perubahan. Aku melihat lukanya mulai membaik. Air asin di laut ini ternyata tidak mampu membuat semangatnya goyah. Ia bahkan semakin kuat. Kini banyak ikan-ikan lain yang senang berteman dengannya, bukan hanya kami. Ikan-ikan laut yang lain –yang tadinya belum terlalu bisa menerimanya- kini mulai menyukainya. Kini ia bagai menjelma menjadi sosok yang lain. Sosok yang lebih bermakna.
Bisa dikatakan aku salut dengan kegigihan ikan sungai itu. Kalau saja aku –ikan laut- yang berpindah hidup di sungai, mungkin aku tak setegar itu. Mengobati koyak moyak yang hampir menguliti separuh jiwaku sendirian dan berusaha menemukan hal baru yang mungkin bisa membahagiakanku. Namun ia –ikan sungai itu- bisa melakukannya.
Lalu kini aku lihat dibinar matanya seolah ia sedang berkata, “hadapkan aku dengan predator terhebat dan terkuat dari laut ini. Lalu aku akan berenang dengan santai di depannya. Selanjutnya Kita akan lihat, siapa yang lebih pantas dimakan.”
RIMA NOVELTA, mei 08th 2012;10.27pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar