Social Icons

Pages

HIDUP itu terlalu INDAH untuk ditangisi, tapi juga terlalu PAHIT untuk dinikmati...
TAPI hidup akan sangat BERMAKNA jika di HARGAI

Sabtu, Oktober 01, 2011

CLIMB






“Alika, ayah sangat menyayangi kalian semua, ibumu, adikmu, dan kamu. Tapi ayah mungkin tidak dapat terus menjaga kalian. Suatu saat kita pasti akan berpisah. Kamu anak yang baik dan kuat. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Kamu harus bisa menjaga ibu dan adikmu. Ayah sayang kamu.” Ini kata-kata yang mestinya kuingat selalu.

“Selamat ulang tahun Alika, ayo tiup lilinnya.” Ibu datang dengan kejutan kue di tangannya. Adikku yang baru berusia tujuh tahun mengiring di belakangnya.
Enam belas lilin-lilin kecil yang ramai di atas kueku yang kecil menandakan jumlah usiaku saat ini telah ku padamkan.

***

Aku sulit sekali untuk melihat ke sekeliling karena asap mengepul di mana-mana. Aku berusaha mencari ibu, dan juga adikku. Tapi aku tidak dapat melihat mereka di manapun. Aku berusaha berteriak memanggil mereka, tetapi setiap kali aku hendak mengeluarkan suaraku tiba-tiba saja aku terbatuk dan tak sanggup mengeluarkan suara apapun. Air mata telah membanjiri pipiku dan tenggorokanku rasanya sakit sekali. Namun aku tetap berusaha berjalan di tengah asap dan hiruk pikuk orang-orang yang berlarian sambil membawa barang-barang mereka seadanya. Mereka bahkan tidak ingat lagi bagaimana caranya bersikap panik. Mereka juga seakan lupa dengan apa yang seharusnya mereka selamatkan. Yang mereka tahu agar diri mereka dulu yang selamat. Bahkan ada yang lupa bahwa anak mereka masih tetidur di dalam kamar dan seketika berubah histeris ketika menyadarinya. Ada juga ibu-ibu yang tiba-tiba berteriak ketika menyadari bahwa yang sedari tadi di gendongnya bukanlah anak bayinya melainkan guling kecil milik bayinya.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas gambaran kejadian ketika itu. Hingga saat ini aku benar-benar menyesal tidak dapat menyelamatkan ibu dan adikku. Tapi aku bahagia masih bisa selamat dari kejadian itu.

Aku memandangi batu nisan ayah, ibu dan adikku. Makam ketiganya berdampingan di sebuah pemakaman umum bersama dengan makam korban lainnya yang senasib dengan ibu dan adikku. Ayahku meninggal setahun lebih dulu dari kejadian kebakaran itu. Iya tertabrak mobil dan meninggal. Menurut cerita saat itu ia sedang berusaha menyelamatkan seorang pria yang sedang menyeberang jalan. Tapi niat menolong malah ayahku yang tertabrak.

Hari ini orang-orang yang selamat dari kejadian beberapa tahun lalu itu banyak yang berkunjung ke makam ini untuk menabur bunga bagi keluarga dan teman mereka yang telah lebih dulu pergi itu.

Selepas menabur bunga di makan ayahku dan adikku. Aku beralih ke makam ibuku untuk menabur bunga. Kupandangi dan kuusap nisannya.

“Ibu, aku rindu.” Aku berkata sambil menahan air mata yang berlinangan di bola mataku dan akhirnya tertumpah membasahi pipiku.

Seseorang di sampingku membelai bahuku dan berusaha menenangkanku. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari kantong jaketnya dan menghapus air mataku. Aku pun memejamkan mata di dalam dekapannya.

Memoriku kembali menerawang kejadian lima tahun lalu. Satu jam setelah kejadian, aku membuka mataku. Berat sekali rasanya. Aku melihat sekeliling, ke atas, ke samping, kedepan, kemana-mana. Suasananya tampak berbeda. Pandanganku memang masih agak kabur, tapi tidak ada lagi asap yang mengepul di mana-mana. Tiba-tiba saja terlintas dalam bayanganku api yang menyala-nyala, asap di mana-mana dan bangunan yang runtuh oleh nyala kemerahan itu. Tapi sekarang aku selamat. Oh tidak! Pasti aku sudah di surga. Apa aku sudah mati? Apa aku sudah mati? Lalu bagaiman dengan keluargaku? Ibu? Adik?

“Aaaaarrrgggggggghhhhhhhh!!!!!!!!!!..........”
“Pegangi kakinya, suster pegangi tangannya, kita harus memberinya obat penenang.”
Kemudian mereka menyuntikkan jarumnya ke lenganku. Aku sudah tidak dapat lagi merasakan jarumnya. Sepertinya sedikit sakit. Tubuhku langsung lemas dan terasa sedikit lega dan tenang. Para petugas berseragam putih itu seperti berdiskusi tentang sesuatu kemudian hendak beranjak meninggalkanku. Aku berusaha menggapaikan tanganku dan memanggil mereka. Tapi lemah sekali.
“Tunggu…” Seruku dengan suara seadanya.
Tapi sepertinya mereka tidak mendengar dan berlalu begitu saja dari ruangan ini, meninggalkanku sendirian. Aku takut!

Berhari-hari aku berada di ruangan ini. Sendirian! Hanya sesekali dokter dan suster mengunjungiku untuk melihat perkembangan keadaanku. Aku sempat bertanya pada mereka tentang siapa orang yang menyelamatkanku. Mereka tidak memberikan banyak informasi. Mereka hanya mengatakan bahwa aku sangat beruntung bisa selamat dari kejadian waktu itu. Tapi mereka tidak mengatakan siapa yang menyelamatkanku.

“Apa aku sudah boleh pulang, Dok?”
“Sebetulnya keadaanmu sudah lumayan membaik. Sistem pernafasanmu juga sudah membaik. Jadi kamu tidak perlu lagi memakai tabung oksigen ini. Tapi kami khawatir dengan trauma yang mungkin akan terjadi jika kami mengizinkanmu pulang.”
“Tapi aku sudah bosan di sini terus. Lagipula aku ingin berziarah ke makam keluargaku.”
“Bagi kami para petugas medis. Menyembuhkan penyakit lainnya mungkin lebih mudah di banding mengatasi trauma. Kami melihat kamu mengalami trauma yang begitu mendalam terhadap kejadian itu. Selama sepuluh hari kamu di rawat di sini kami melihat kamu lebih banyak merenung dan menangis kemudian menjerit-jerit histeris.”
“Hanya aku yang mengerti perasaanku. Aku butuh udara luar. Bukan di sini.”
“Ya kami tahu. Kita lihat dulu perkembangan selanjutnya. Mungkin kamu butuh konsultasi dengan Psikiater.”
“Aku mau Tanya, Dok. Sebetulnya siapa yang membayar biaya selama aku di sini?”
“Itu kami tidak bisa katakan. Yang jelas seseorang yang sepertinya sangat peduli dan berhutang budi pada kamu atau mungkin pada keluargamu.”
Aku merenung sesaat. Tidak dapat menebak siapa orang sudah begitu baiknya mau menyelamatkanku dan melakukan semua ini. Lalu kenapa orang itu tidak mau menunjukkan dirinya.
“Ya sudah, saya keluar dulu ya. Kalau perlu bantuan suster kamu ingat kan harus tekan tombol bantuan itu.” Kata dokter itu sambil menunjuk ke sebuah pegangan bertombol yang terhubung dengan ruangan perawat. Dengan tersenyum kemudian dia keluar dari ruangan ini.

Satu tahun berlalu dari kejadian itu. Aku sudah merasa lebih baik dan lebih siap menghadapi kehidupanku saat ini. Aku yatim piatu yang tanpa saudara dan aku harus tetap hidup untuk melanjutkan sejarah perjalanan hidupku. Hingga suatu saat kelak aku dapat menceritakannya kepada anak cucuku. Aku tidak ingin mengakhiri begitu saja cerita yang baru saja ingin aku mulai ini.

Kini aku sedang duduk di sebuah restoran tempat aku bekerja. Aku sedang mengambil cuti satu hari karena ada janji dengan seseorang.

Pelayan datang menghampiriku. Dia juga sebetulnya adalah teman bekerjaku.
“Kenapa datang ke sini? Bukannya hari ini ambil cuti?”
“Aku ada janji dengan seseorang di sini. Dia ingin bertemu denganku di sini.”
“Ohh..”
“Ya sudah, mana menunya aku mau pesan minum dulu.” Kataku sambil menadahkan tangan kiriku.

Pelayan menyerahkan daftar menu kepadaku, mencatat pesanan dengan cepat kemudian berlalu. Lima menit kemudian dia sudah kembali lagi membawakan secangkir espresso hangat untukku.

Sudah sepuluh menit berlalu sejak aku duduk di sini. Orang yang aku tunggu-tunggu belum juga menunjukkan kedatangannya. Apa perlu aku menghubunginya lagi. Ah tidak usah! Nanti dia menganggap aku tidak percaya padanya. Tapi bagaimana bisa langsung percaya kalau bertemu juga belum pernah. Aku memutuskan untuk menunggu saja.

Lima belas berlalu. Akhirnya aku melihat sesosok lelaki yang mengenakan tuksedo hitam dengan kemeja putih di dalamnya lengkap dengan dasi biru toska tanpa garis. Kakinya tampak begitu panjang dengan celana hitam yang disetrika llicin dengan padanan sepatu hitam mengkilap. Benar-benar membuatku terperangah dan tak berkedip sedetikpun. Bahkan aku lupa untuk tersenyum ketika menatap matanya yang hitam berkilau seperti berlian hitam dari afrika. Rambut emasnya yang berkilau di tambah wajah putihnya yang memang tampan membuat aku tak mampu berkata apa-apa. Bahkan ketika dia duduk dan menyapa, terlihat sangat berkharisma.

“Hei,,, hei,,, hei,,,” dia berusaha menyadarkanku dari lamunan dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.

Tiba-tiba aku tersadar dan terperanjat di buatnya. Aku pun senyum-senyum salah tingkah.
“Maaf.” Aku bergumam seadanya.
“Tidak apa-apa.” Katanya sambil memamerkan senyum manisnya dengan deretan giginya yang putih berkilau seperti mutiara. “Kamu mungkin kaget ketika aku mengajak bertemu padahal kita belum lama kenal, ya kan.”
“Eh.. eh.. iya. Aku lumayan terkejut. Tapi aku juga penasaran tentang cerita yang mau kamu sampaikan dan berkaitan dengan peristiwa kebakaran satu tahun lalu.” Kataku dengan mengerutkan alis seperti memohon dan sangat ingin tahu.
“Tapi ada baiknya kita makan siang dulu ya.” Dia kembali tersenyum kemudian memesan makanan untuk kami.

Selepas makan dia mulai menceritakan apa yang telah dijanjikannya.
“Sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak sempat lagi menyelamatkan ibu dan adikmu.” Dia berkata seperti ada begitu banyak penyesalan dalam hatinya.
“Menyelamatkan ibu dan adikku?” Aku mengerutkan alisku heran. “Apa kamu yang menyelamatkanku? Iya? Betul itu? Kamu yang menyelamatkanku? Iya? Ayo jawab? Ayo jawab?” aku seperti orang yang histeris dan menyodorkannya pertanyaan yang sangat ingin aku tahu selama ini.

Tapi dia hanya menunduk dan diam.
“Ayo ceritakan!” aku sedikit berteriak untuk memaksanya bercerita. Terlihat beberapa pengunjung di restoran itu seketika memandangi kami karena suaraku tadi. Aku tidak peduli. Yang aku butuhkan sekarang adalah kejelasan.

Dia menghela nafas panjang kemudian bicara, “Aku mau bercerita asal kamu berjanji mau memaafkanku.”
Saat ini aku tidak peduli apa kesalahannya, yang aku butuh ceritanya. “Baiklah. Aku berjanji.”

Setelah beberapa detik dia mulai bercerita, “Waktu itu aku baru pulang dari kuliah. Aku pulang sendirian. Ketika itu aku hendak menyeberang. Di tengah jalan aku melihat sebuah mobil dari arah kiri melaju dengan kencang. Aku terkejut. Kesadaranku hilang. Tapi tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang mendorongku hingga aku jatuh terpental ke seberang jalan. Dan…. Aku mendengar suara dentuman mobil yang keras.”

Aku mendengar ceritanya dengan seksama dan berlinangan air mata. Aku sampai menahan nafasku agar air mataku tidak tumpah sebelum cerita usai.
“Aku berdiri dan menoleh ke arah jalan. Orang itu tertabrak. Aku menghampirinya. Aku ingin mengucapkan terima kasih. Tapi….. aku berpikir ulang bahwa aku harusnya minta maaf dan menolongnya segera karena dia yang telah menyelamatkanku. Aku menghampirinya segera. Darah mengucur dari kepalanya, dari lengannya, dari mana-mana, dari sekujur tubuhnya. Aku belum sempat berkata apa-apa padanya. Aku tidak sanggup. Dia menitipkan pesan padaku. ‘jaga anak dan istriku’. Begitu katanya.”
Kali ini aku sudah tidak sanggup lagi menahan tumpahan air mataku.
“Ketika polisi datang untuk mengidentifikasi korban. Aku di beri kesempatan untuk melihat isi dompet korban karena aku mengaku sebagai keluarga korban. Aku melihat kartu identitasnya. Aku melihat foto di dalam dompet itu.”
Dia kemudian menyodorkan selembar foto ukuran dompet kepadaku. Di foto itu ada gambar seorang ayah, ibu, adik kecil dan seorang remaja putri. Di belakang foto tertulis :
‘ayah, ibu, alika, alvian’
‘kami berbahagia selamanya’
Itu keluargaku. Aku kembali menumpahkan butiran-butiran kesedihan dari mataku namun berusaha untuk tidak terisak.
“Setelah kejadian itu. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menemukan kalian. Aku menemukan alamat kalian. Tapi ternyata kalian pindah rumah. Selama satu tahun aku terus berusaha mencari kalian. Sampai akhirnya aku temukan. Besoknya aku berencana untuk menemui keluargamu. Tapi aku kurang beruntung. Kejadiannya tidak terduga olehku. Api di mana-mana, aku berusaha mencari kalian dengan bekal foto ini. Aku menemukan adik dan ibumu lebih dulu. Tapi aku terlambat. Mereka tertimpa runtuhan kayu yang terbakar. Dan..… mereka tidak lagi bernafas. Akhirnya aku mencari bantuan. Aku menelepon ambulance untuk membawa ibu dan adikmu. “
Kali ini aku tidak mampu lagi menahan untuk tidak terisak.
“Aku lumayan kesusahan saat itu. Aku susah bernafas. Tapi aku coba untuk kuat. Aku harus menemukanmu. Para tim pemadam kebakaran dan relawan penolong lainnya baru saja datang. Tiba-tiba aku melihat seorang gadis sedang terbaring telungkup dan terbatuk-batuk. Aku sangat berharap itu orang yang aku cari. Aku menghampiri gadis itu dan aku menemukanmu. Aku cepat-cepat membawamu ke mobil bantuan. Aku segera mengantarmu ke rumah sakit. Aku meminta pada dokter agar kamu di tempatkan di kamar paling bagus dan terpisah dari korban lainnya. Dan aku meminta pada dokter untuk merahasiakan tentang diriku.”
“Kenapa? Kenapa kamu merahasiakan semua ini dan baru sekarang menceritakannya. Setelah aku sanggup menjalani ini semua dengan baik dan melupakan peristiwa-peristiwa yang hampir menghancurkan hidupku. Tapi tiba-tiba kamu datang dan mengatakan agar aku mau memaafkanmu. Apa mau kamu?” aku kembali berteriak dan tersedu-sedu. Orang-orang kembali mengalihkan pandangan mereka pada kami.
Dia kemudian berdiri dan menarik tanganku.
“Mau ke mana?” tanyaku
“Jangan di sini. Kita ke tempat lain saja.” Ajaknya.
Lalu kami tiba di sebuah taman yang penuh dengan rerumputan hijau, bunga-bunga yang sedang kuncup, dan udara yang berhembus semilir. Dia mengajakku duduk di atas rumput di pinggir danau kecil di tengah taman.
“Aku minta maaf.”
Aku hanya diam menahan air mata dan amarahku yang sejak tadi telah meluap-luap.
“Aku tahu aku salah. Sejak kepergian ayahmu aku telah tahu bahwa aku salah. Aku telah berjanji pada diriku untuk menepati apa yang telah di amanatkan ayahmu. Tapi aku tidak melakukannya dengan baik. Ibu dan adikmu sudah tidak ada. Aku tahu itu sakit sekali buatmu. Dan itu artinya kegagalan buatku. Sekarang hanya tinggal kamu, Alika. Tugasku sekarang adalah menjagamu seperti yang dikatakan ayahmu padaku. Aku berhutang nyawa pada ayahmu. Aku juga tidak bisa menjaga ibu dan adikmu. Sekarang aku mau membayar semua itu dengan menjagamu. Aku harus bisa menjadi ayah dan kakak untukmu.”
Aku menatap matanya yang juga ikut berkaca-kaca. Mendengar apa yang di ucapkannya aku berubah simpati.
“Bukan salahmu kalau kamu mau marah sama aku atau bahkan membenciku. Aku cuma mau membayar semua kesalahan yang sudah kuperbuat selama ini.” Dia berkata dengan penuh pengharapan.

Aku hanya diam saja sambil menatap ke arah danau dan melempar batu-batu kecil ke danau.
“Ini mungkin sulit buat kamu. Kita baru saja kenal dan aku tiba-tiba saja menawarkan diri untuk menjagamu. Tapi aku sungguh-sungguh. Semua ini kulakukan untuk ayahmu. Dia lelaki yang penyayang dengan keluarganya. Aku bisa tahu itu meski pertemuan kami tidak sampai satu menit. Dan aku ingin jadi seperti dia. Aku ingin bisa menyayangi kamu juga seperti dia.”

Aku menatap tajam padanya dan menyipitkan sedikti mataku yang sembab oleh air mata. Namun tetap tak berkata apa-apa.
“Mungkin kamu baru saja mengenal aku. Tapi selama satu tahun ini. Satu tahun dari peristiwa kebakaran itu. Aku selalu memperhatikan kamu. Aku berusaha merawat kamu melalui orang lain. Aku berusaha melindungi kamu melalui orang lain. Ada beberapa temanku yang sekarang jadi teman kamu juga. Aku sering berpesan pada mereka agar menjaga dan mengawasi kamu. Aku juga minta pamanku untuk memberikan pekerjaan padamu di restoran itu. Aku meminta tantenya temanku untuk menurunkan harga kosnya tempat kamu tinggal agar kamu mampu membayar. Aku meminta sepupuku Airin agar mau menjadi teman yang baik buatmu dan mau menjadi tempatmu bersandar ketika kamu sedih. Aku meminta adiknya temanku yang satu kelas denganmu di kampus untuk mengajarimu kalau-kalau kamu ada masalah dengan kuliah. Aku juga memberikan uang pada sahabat-sahabatmu untuk membeli sepeda sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke delapan belas tahun agar kamu mudah kalau mau pergi ke mana-mana. Aku bukan mau mengungkit, aku hanya mau kamu tahu bahwa aku tidak melalaikanmu selama ini.”

Aku tertegun menatapnya. Aku tidak pernah menyangka dia melakukan itu semua padaku.
Akhirnya aku mencoba bersuara, “tapi kenapa aku harus menunggu terlalu lama untuk bertemu dan mendengar cerita dari orang yang harusnya melindungiku selama ini.”
“Selama satu tahun ini aku mencoba untuk mengumpulkan keberanian agar aku bisa berbicara denganmu. Padahal sebetulnya aku tahu banyak sekali kesempatan kalau hanya untuk menyapamu. Tapi itu tidak kulakukan. Aku tidak sanggup. Aku hanya ingin bertemu denganmu ketika aku benar-benar siap…..” dia menunduk. “Ketika aku sudah bisa menyayangimu.”
Aku menatapnya yang masih tertunduk.
“Lalu bagaimana kita memulainya. Kamu sepertinya sudah banyak mengenalku. Tapi aku tidak.” Aku berkata sambil melempar batu-batu kecil tengah ke danau.
Dia menarik nafas panjang dan menatapku. “Aku ingin kita berteman. Aku merasa sudah cukup banyak mengenalmu. Sekarang giliran kamu mengenalku. Aku sudah memikirkan ini selama setahun penuh. Dan aku merasa ini bukan keputusan yang buruk. Karena hanya dengan ini aku bisa menghentikan diriku untuk merasa bersalah.”

Aku merenung dan meresapi ucapannya.
“Berteman?” tanyaku.
Dia mengangguk.
"Kita lihat saja."
Dia tersenyum dan berkata, “malam ini aku sudah rencanakan pesta di rumahku. Pesta ulang tahunku. Teman-temanku yang juga teman-temanmu juga akan datang. kamu mau datang kan?”
Tiba-tiba ponselku berdering. Ada sebuah pesan singkat masuk.
‘nanti malam akan ada pesta di rumah sepupuku,
kamu ikut ya, ka. Ups, kamu sekarang
sedang bersama sepupuku ya. 
dari Airin’
Aku pun tersenyum, “Apa Airin sudah tahu semua ini?”
“Ya, dia tahu semua. Bahkan juga pertemuan kita ini.” Dia tersenyum dengan manisnya.

Sulit memang mengetahui semua ini yang terjadi. Duniaku seketika berubah. Aku bingung pada ekspresi apa yang harus aku tunjukkan. Aku bahagia. Ternyata selama ini aku bersama orang-orang yang menyayangiku dan peduli padaku. Ternyata selama ini aku tidak sendirian. Dan mulai saat ini aku benar-benar tidak sendirian. Brian, entah kenapa aku seperti menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam dirinya. Mungkin karena dia selama ini telah menjagaku meski aku tidak mengetahuinya.

Enam tahun sejak kepergian ayah, aku masih tetap mengingat pesannya ketika ulang tahun terakhirku bersamanya. Pesan itulah yang membautku kuat hingga kini. Lima tahun sejak peristiwa kebakaran itu terjadi. Aku pun masih tetap tidak dapat melupakannya. Hanya saja aku tidak lagi menangis ketika mengingatnya. Karena aku tahu bahwa aku harus bahagia. Aku berhak bahagia. Dan aku memang berbahagia. Aku yakin kita semua bisa meraih kebahagiaan meski kita tidak menyadari. Karena sebetulnya kita semua terlahir bahagia. Tapi apakah kita sanggup merasakan kebahagiaan itu? Dan apakah kita sanggup melalui jalan yang tidak mudah saat meraih kebahagiaan itu. Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.

‘Mendakilah untuk mencapai ke puncak kebahagiaan meski jalan itu curam
dan terjal penuh batu.’

Rima Novelta, September 11, 2011; 06.08pm
»»  READ MORE...

REMBULAN DI PADANG GURUN

Banyak tapak sudah aku menjejak pada pasir ini, Kawan
Di atas hamparan padang gurun
Kumenoleh ke kiri dan ke kanan
Tak juga kutemukan air di mana-mana
Dan sekalinya aku temukan air nanti
Akan ku minum hingga puas dan kering
Tapi ternyata aku hanya berjalan dan berjalan saja

Hari mulai gelap, Kawan
Sedari pagi sudah aku berkawan pasir dan panasnya gurun ini
Tapi…. Kapan aku melewati petangnya
Tiba-tiba saja hari telah berubah malam
Tanpa mengabariku bahwa petang telah berlalu

Ini malam ternyata, Kawan
Coba lihat!
Tampak jauh sekali di sana begitu terangnya
Mungkinkah bulan purnama
Lalu….
Kenapa di gurun ini begitu gelapnya
Bahkan terasa sangat panas
Harusnya di sini sejuk atau bahkan membuatku menggigil
Tapi kenapa ini lain


Oh Tuhan….
Kenapa kau hukum aku begini
Apa salahku?
Apa ini hukumanmu padaku?
Tolong berikan bulan itu di langit gurun ini
Jangan biarkan aku kegelapan dan kepanasan seperti ini

Kemudian….
Aku melihat cahaya yang begitu terang dari langit
Abrakadabra!
Ini bukan sulap atau sihir, kawan
Bulan telah ada tepat di tengah langit di atas gurun ini
Dan udara seketika berubah dingin

Sadar bahwa aku baru saja berdoa pada Tuhan sekian detik yang lalu
Tapi tuhan dengan mudahnya mengabulkan pintaku
Coba sejak dulu aku dekat denganmu, Tuhanku
Mungkin aku akan selalu sejuk siang dan malam di gurun ini
Dan pasti rembulan akan selalu menaungi malam-malamku

Tapi Tuhan….
Aku barulah menyadari ini ketika gurun ini akan mati
Dan pasirnya menamparku
Hingga aku terpelanting dan patah berkeping-keping


Rima Novelta, September 3 2011;06.42pm
»»  READ MORE...

Tips Cantik Dalam 30 HARI "(,^o^,)"

Hari 6 - 10

Hari 6
= makan dengan menu sehat, seimbang, dan tidak berlebihan
= kuasai minimal dua bahasa asing
= disiplin waktu

Hari 7
= jangan lupa olahraga minimal 1 kali dalam 1 minggu
= long life education! belajar belajar dan belajar terus sampai tua
= luruskan niat

Hari 8
= kenali jenis kulitmu, so pakai kosmetik yang sesuai dengan jenis kulitmu
= baca majalah/koran/blog biar tambah smart
= silence is golden when needed!

Hari 9
= rajin bersihin muka, minimal 2 kali sehari
= ngejilid kumpulan majalah yuk!
= tebarlah senyum!

hari 10
= jaga jumlah asupan makanan dan minumanmu, jangan kurang atau lebih, tapi cukup
= kliping artikel majalah yang penting, sisanya kiloin ajah!
= tebarkan salam!



________bersambung ke tips cantik dalam 30 hari (hari 11 - 15)___________
»»  READ MORE...