Banyak tapak sudah aku menjejak pada pasir ini, Kawan
Di atas hamparan padang gurun
Kumenoleh ke kiri dan ke kanan
Tak juga kutemukan air di mana-mana
Dan sekalinya aku temukan air nanti
Akan ku minum hingga puas dan kering
Tapi ternyata aku hanya berjalan dan berjalan saja
Hari mulai gelap, Kawan
Sedari pagi sudah aku berkawan pasir dan panasnya gurun ini
Tapi…. Kapan aku melewati petangnya
Tiba-tiba saja hari telah berubah malam
Tanpa mengabariku bahwa petang telah berlalu
Ini malam ternyata, Kawan
Coba lihat!
Tampak jauh sekali di sana begitu terangnya
Mungkinkah bulan purnama
Lalu….
Kenapa di gurun ini begitu gelapnya
Bahkan terasa sangat panas
Harusnya di sini sejuk atau bahkan membuatku menggigil
Tapi kenapa ini lain
Oh Tuhan….
Kenapa kau hukum aku begini
Apa salahku?
Apa ini hukumanmu padaku?
Tolong berikan bulan itu di langit gurun ini
Jangan biarkan aku kegelapan dan kepanasan seperti ini
Kemudian….
Aku melihat cahaya yang begitu terang dari langit
Abrakadabra!
Ini bukan sulap atau sihir, kawan
Bulan telah ada tepat di tengah langit di atas gurun ini
Dan udara seketika berubah dingin
Sadar bahwa aku baru saja berdoa pada Tuhan sekian detik yang lalu
Tapi tuhan dengan mudahnya mengabulkan pintaku
Coba sejak dulu aku dekat denganmu, Tuhanku
Mungkin aku akan selalu sejuk siang dan malam di gurun ini
Dan pasti rembulan akan selalu menaungi malam-malamku
Tapi Tuhan….
Aku barulah menyadari ini ketika gurun ini akan mati
Dan pasirnya menamparku
Hingga aku terpelanting dan patah berkeping-keping
Rima Novelta, September 3 2011;06.42pm
HIDUP itu terlalu INDAH untuk ditangisi, tapi juga terlalu PAHIT untuk dinikmati...
TAPI hidup akan sangat BERMAKNA jika di HARGAI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar