Social Icons

Pages

HIDUP itu terlalu INDAH untuk ditangisi, tapi juga terlalu PAHIT untuk dinikmati...
TAPI hidup akan sangat BERMAKNA jika di HARGAI

Selasa, Juli 31, 2012

~Untuk Anakku~

Kau begitu kejam, nak
Bahkan pada dirimu sendiri
Materi ini tak akan pernah dapat membantumu
Tidak juga tawa hambar

Setiap pagi adalah beku
Tiap sore adalah abu-abu
Tiap malam adalah benci

Kamu berkhianat, nak
Bahkan Pada dirimu sendiri
Mengotori yang bersih
Mengacau yang tertata
Melenyapkan yang terjaga
Dan menikam semua dengan marah

Kulihat kau bertumbuh, nak
Menjadi Seorang pembunuh
Menghabisi semua yang hidup
Melukaiku, mebuatku sakit, kau Membunuhku dengan sangat-sangat perlahan.

27/5
»»  READ MORE...

Jumat, Juli 27, 2012

~Tak Pernah Lelah~

Terus dan terus
Aku akan terus menatapmu
Meski kau tengah menatap yang lain
Erat dan semakin erat
Aku akan tetap menggenggam tangammu erat
Meski kau tengah merangkul yg lain

Aku anggap ini pengorbanan
Meski orang katakan ini kebodohan
Aku anggap ini penantian
Meski orang katakan ini kesia-siaan

Untukmu aku sanggup jika hanya sekedar menunggu
Untukmu aku sanggup jika hanya sekedar berkorban

Aku tidak pernah dikenalkan dengan rasa lelah untuk mengharapkanmu
Karena kamu adalah lebih dari apapun yang aku ingini untuk tetap tinggal dihidup ini..

24/7
»»  READ MORE...

Selasa, Mei 15, 2012

Sebuah Luka


Kami adalah ikan-ikan kecil yang hidup dilautan luas. Sangat mudah bagi predator manapun untuk menelan kami hidup-hidup atau sekedar dijadikan makanan penutup. Tapi satu hal yang kami yakini, bahwa kami mampu bertahan.


Ketika itu kami melihat ada seekor ikan lain yang sedang berenang. Ikan itu telihat kebingungan menentukan arah, kemana ia hendak berenang? Kami tidak pernah melihat ikan bentuk itu sebelumya. Dia coba memperhatikan kami yang diam-diam mengamatinya. Lalu dia mendekat. Saat itu aku sendiri berpikir, “apakah benar bahwa semua aliran sungai yang tenang pada akhirnya akan meneruskan alirannya hingga ke laut yang begitu lepas sehingga seekor ikan sungai tiba-tiba bisa berenang di lautan ini?” Ikan yang baru saja mendekati kami berasal dari sungai yang selama ini kami anggap tenang dan santai. Kami tidak tahu apakah ia tersesat atau terusir dari sungai. Kami tidak paham.


Hari demi hari, tanpa kami sadari ternyata kami semakin akrab saja dengan ikan sungai ini. Namun keakraban yang terjalin ini terjadi tanpa seorangpun yang menyadari akan hal itu. Semua seperti mengalir begitu saja. Kami ingat betul akan sesuatu yang ia bawa ketika ia datang ke lautan ini. Sebuah luka.


Aku sempat berpikir apakah ikan ini dapat bertahan di tengah lautan lepas yang setiap saat dapat saja dengan mudah menghempas tubuhnya ketika ombak datang atau nelayan yang sedang memasang jaringnya yang besar. Laut bukan tempat yang tepat untuk ikan yang sedang terluka sepertinya. Predator dan hantaman karang harus siap dihadapinya kapan saja. Lalu Apakah ikan ini dapat beradaptasi dengan kondisi air laut yang jelas berbeda dengan air sungai. Asin. Asin dapat berupa simbol kegetiran hidup. Terlebih saat itu ia sedang terluka. Pernahkah ada yang mencoba menyiram lukanya atau meneteskan air ke kulitnya yang terluka dengan air garam? Rasanya sungguh pedih. Aku rasa ikan ini salah tempat. Harusnya ia pergi saja ke telaga yang damai untuk mengobati lukanya. Namun aku melihat ini bukan pilihannya, kebetulankah ia ada di laut ini? Aku pun tidak paham.


Seperti air yang terus saja mengalir tanpa hambatan. Kami –ikan-ikan laut dan seekor ikan sungai- merasa semakin dekat. Kedekatan yang lagi-lagi tidak di duga.


Kami pernah mengatakan bahwa, “alangkah beruntungnya kalian ikan-ikan sungai bisa tinggal di tempat setenang dan sesejuk itu. Di sungai. Kami mungkin hanya bermimpi untuk bisa ke sana.”


Namun kemudian Ikan sungai itu bercerita bahwa sungai yang ditinggalkannya tidaklah setenang dan sesejuk yang kami bayangkan selama ini. justru sungai itulah yang telah membuatnya terluka. Tepatnya ikan-ikan lain yang ada di sana. Apa sebabnya kami tidak paham. Namun perlahan-lahan kami mencoba berusaha mengerti.


Kian hari ikan sungai itu kian menunjukkan perubahan. Aku melihat lukanya mulai membaik. Air asin di laut ini ternyata tidak mampu membuat semangatnya goyah. Ia bahkan semakin kuat. Kini banyak ikan-ikan lain yang senang berteman dengannya, bukan hanya kami. Ikan-ikan laut yang lain –yang tadinya belum terlalu bisa menerimanya- kini mulai menyukainya. Kini ia bagai menjelma menjadi sosok yang lain. Sosok yang lebih bermakna.


Bisa dikatakan aku salut dengan kegigihan ikan sungai itu. Kalau saja aku –ikan laut- yang berpindah hidup di sungai, mungkin aku tak setegar itu. Mengobati koyak moyak yang hampir menguliti separuh jiwaku sendirian dan berusaha menemukan hal baru yang mungkin bisa membahagiakanku. Namun ia –ikan sungai itu- bisa melakukannya.


Lalu kini aku lihat dibinar matanya seolah ia sedang berkata, “hadapkan aku dengan predator terhebat dan terkuat dari laut ini. Lalu aku akan berenang dengan santai di depannya. Selanjutnya Kita akan lihat, siapa yang lebih pantas dimakan.”


RIMA NOVELTA, mei 08th 2012;10.27pm

»»  READ MORE...

Rabu, Mei 02, 2012

----- EGOKU -----






Aku tidak menganggap ini adalah salahku atau salahmu

Aku tidak menganggap bahwa ini adalah salah kita

Aku bahkan tidak menganggap bahwa ini adalah kesalahan

Hanya saja ini sedikit membuatku merana

Aku merana bukan karena rindu

Bukan karena cinta

Apalagi rasa bersalah

Aku merana karena aku tak ingin marah

Pertanyaanku kini, kenapa aku harus diperkenalkan dengan dirimu?

Kenapa aku menerima perkenalan denganmu?

Kenapa aku terlalu tidak tega menolakmu?

Aku tidak anggap ini penyesalan

Tapi aku sedih jika benar kamu telah cinta aku

Sebab aku tidak akan mau membalas rasa itu

Aku tidak akan meminta perpisahan darimu

Karena bukan aku yang memulai

Makan biarlah kamu yang memutuskan



Rima Novelta, January 01th 2012

»»  READ MORE...

----- KAMU -----





Tuhan tak pernah salah menciptakanmu

Ibumu pun tak pernah salah telah melahirkanmu

Tapi salahkah aku telah mengenalmu

Lalu kini, salahkah aku yang terlalu mencintaimu dan menyayangi

Aku pernah memohon pada Tuhan

Agar mencipta satu makhluk penggantimu

Untuk berada disisiku

Tapi, meski begitu

Akankah orang itu dapat aku cintai

Seperti aku mencintaiu

Jika ini memeng benar

Maka kumohon pada Tuhan

Untuk buat aku lupa tentangmu


---> puisi ini aku persembahkan untuk seseorang yang pernah aku cintai
namun aku bahagia karena aku berhasil untuk tidak lagi memikirkan dirinya



»»  READ MORE...

Selasa, Mei 01, 2012

--- TELAGA RINDU ---








Tap tap tap tap…
Hosh hosh hosh hosh…
Aku melihat sekeliling. Setelah berusaha berlarian hingga mencapai lantai empat gedung ini. Aku sempat mengumpat tempat ini dalam hati, “dasar kampus tua, lift saja bisa rusak.” Akhirnya aku berhenti di depan sebuah bangku kayu panjang bercat coklat tua yang terletak di depan tangga. Aku langsung menuju bangku itu dan terduduk. Aku tersenyum melihat sebuah telepon genggam berwarna hitam yang ada di sampingku.
“Arrgggghhhhhh!” batinku berteriak.
“Akhirnya kamu ketemu juga.” Seruku seraya mengambil telepon genggam itu.

Aku sangat berterimakasih sekali pada Tuhan yang telah menjaga ponselku. “Dasar otak tulalit.” Kataku dalam hati seraya menjitak kepalaku sendiri. Aku masih memeluk erat ponselku di dada dengan terus tersenyum.
Tiba-tiba aku merasa seperti mendengar suara sesuatu. Sangat lembut, dan menyayat. “Suara apa itu?” Pikirku. Suasana sekitar kampus dari lantai satu sampai lantai empat memang agak sepi, dari tadi aku hanya melihat beberapa orang saja yang melintas di depanku. “Jangan jangan…” Eih! Aku bergidik membayangkan hal-hal yang aneh-aneh. Aku memang pernah mendengar cerita tentang ‘penghuni’ kampus ini. Dan kata orang di setiap bangunan pasti ada ‘penghuni’nya apalagi bangunan kampus sebesar ini yang kelihatannya sudah sangat tua dan usang. Aku mencoba mendengarkan lagi suara apa itu. Kucoba menajamkan pendengaranku. Suara itu semakin tajam dan menyayat. Dan dengan gaya sok berani aku mencoba menelusuri darimana datangnya suara lembut itu.
Selangkah demi selangkah lorong di lantai empat ini kutelusuri. Dan aku terhenti di depan pintu sebuah ruang ekskul. Kupegang gagang pintu dengan tangan kananku yang sudah mulai berkeringat dingin. Kucoba membuka pintunya perlahan. Setelah pintu itu terbuka sedikit kudengar suara itu semakin terdengar jelas dan berubah menjadi suara yang indah. Ku buka pintu itu sepenuhnya. Aku melihat seorang laki-laki yang mengenakan jaket coklat muda hoodie bermotif graffiti dengan padanan celana jins biru sedang duduk di sebuah bangku putar yang tinggi sambil mengayunkan biolanya. Aku sungguh terpukau dan hanya diam saja, berdiri mematung memandangi laki-laki itu. “Wow!” teriakku dalam hati.

Kemudian dia mengakhiri permainan biolanya dengan sangat indah.

Prok prok prok prok…
Aku refleks bertepuk tangan dengan keras sambil tersenyum. Menyadari bahwa ada yang menguping permainan biolanya sejak tadi, dia bergegas turun dari kursi dan memasukkan biolanya ke dalam tas kemudian segera pergi berlalu tanpa menoleh ke arahku yang hanya dapat berdiri mematung.

“Kenapa ya?” tanyaku dalam hati. “Apa aku salah?” batinku kembali bertanya. “Kalau memang salah aku harus minta maaf.” Aku bergegas keluar ruangan ekskul, menutup pintunya dan berlarian mengikuti laki-laki itu. Dia turun ke lantai tiga, kemudian ke lantai dua, kemudian ke lantai satu, aku tetap mengikutinya. Berharap aku punya keberanian untuk mengatakan maaf kepadanya. Dan kini aku mengikutinya hingga ke…

“Hey, ini toilet cowok. Toilet cewek di situ. Kecuali kamu udah ganti kelamin. Hahahaha…..” tegur seorang cowok sambil terus tertawa kemudian pergi.

Aku kemudian hanya menunggu dia di samping pintu toilet pria sambil senyum-senyum sendiri, “mungkin tuh cowok kebelet ya, makanya cepet-cepet ke toilet.”Pikirku. Namun aku tetap harus meminta maaf padanya dan berharap dia cepat-cepat keluar. Yes! dia keluar juga.

“Eh, hey.” Aku berusaha menyapa.

Dia menoleh namun tidak mengatakan apapun. Aku benar-benar terkejut melihat wajahnya. Tidak menyangka bahwa yang sedari tadi kukejar adalah dia.

“Ehm… gini. Ehm…” Aku berusaha bicara tapi ternyata susah sekali. Oh Tuhan kenapa aku begitu bodoh begini. Tidak biasanya. Apa karena dia tampan? Oh tidak tidak tidak bukan itu.

“Kalau tidak ada yang terlalu penting lebih baik jangan menyapa.” Dia berkata dengan gayanya yang sangat dingin.

“Eih.” Aku kaget hingga tak sanggup bicara.
Dia hendak pergi dan aku menahannya. “Tunggu.”

“Aku tahu dari tadi kamu ngikutin aku. Kenapa? Mau jadi mata-mata? Buat apa? Ngapain?” tiba-tiba di menyerbuku dengan begitu banyak pertanyaan.

Aku berusaha memberanikan diri untuk berkata. “Aku minta maaf.” Yah! Hanya itu.

“Maaf? Untuk apa?” dia terlihat bingung dan mengangkat sebelah alisnya.

“Gini, mungkin aku udah gangguin kamu main biola. Tapi aku suka banget sama suara biola kamu. It’s awesome! Nice and delicious.” What? Apa sih yang udah aku omongin. Delicious? Memangnya makanan.

Dia tersenyum kemudian berkata, “Jadi karna itu kamu ngikutin aku dari tadi?”

Aku hanya mengangguk-angguk.

Tiba-tiba dia menarik tanganku dan terus berjalan.

“Hey. Kamu ini kenapa? Hey lepasin tanganku. Kita mau kemana? Hey?” aku terus berteriak tapi dia tetap menarikku pergi.

Eih! Aku kaget! Parkiran? Ngapain? Aku kan gak bawak kendaraan. Bingung!
Lalu dia mengenakan helm biru tuanya kemudian naik ke motor merahnya yang besar.
Wow! Dia tambah keren!

“ Nih tolong bawain.” Dia menyerahkan tas biolanya kepadaku.

Aku masih tidak mengerti. Dia ini kenapa? Ya sudah mungkin dia minta aku membantunya untuk membawakan biolanya atau mungkin menitipkannya padaku. Tapi kenapa? Benar-benar aneh.

“Nih pakai.” Dan sekarang dia menyuruhku untuk memakai helm. What????

“Apa? Bawa biola kamu dan sekarang pakai helm. Kamu mau menghukum aku ya karna udah gangguin kamu main biola. Iya?”

“Siapa yang mau menghukum kamu. Aku mau ngajak kamu pergi.”

“Apa? Kamu mau culik aku ya?” aku setengah berteriak.

“Nyulik kamu? Cuma orang gila yang mau nyulik orang kayak kamu.”

“Emangnya aku orang kayak apa?” aku benar-benar marah sekarang.

“Udah deh pake aja helmnya dan kita pergi.”

Aku memalingkan wajahku, “Aku gak mau pergi sama orang yang gak aku…… kenal.”

Aku mengatakannya dengan menahan peluh.

Dia mengulurkan tangannya, “Jadi kita belum kenal ya. Okeh kenalin, aku Kevin. Pasca sarjana Arsitektur.” Dia mengucapkannya seperti orang tersedak, sangat sulit.

Dengan sedikit ragu-ragu aku menyambut uluran tangannya untuk berjabatan dan menghela nafas panjang, “Ari, pasca sarjana Manajemen.” Dan buru-buru melepas jabatan tangannya.

“Okey. Kita udah saling kenal dan sekarang ayo kita pergi.”

Dengan enggan akhirnya aku mengenakan helm ini.

***


“Kita mau kemana sih?”

“Kamu pasti tahu kita mau ke mana nanti.”

Dasar sok misterius. Kalau sampai dia macam-macam sama aku, bakalan aku sumpahi dia sial tujuh turunan.

Dan akhirnya kami sampai di sebuah padang rumput yang hijau dengan sebuah telaga jernih di tengahnya. Aku melihat beberapa batang pohon yang turut menghiasi tempat ini. Aku langsung menuju telaga yang ada di depanku. Menyentuhkan tanganku ke airnya yang begitu sejuk. Aku dapat melihat pantulan wajahku pada air tersebut. Juga pantulan bayangan dari pepohonan di sekitarnya. Aku dapat melihat ikan-ikan kecil berenang ke sana kemari bersama kecebong-kecebong yang panjang ekornya. Sangat menawan. Ada juga di ujung sana beberapa ekor katak sedang melompat-lompat di atas daun-daun teratai yang lebar. Tapi sayangnya bunga teratai itu sedang kuncup. Mungkin lain waktu dia akan mekar dengan indahnya.

Tiba-tiba Kevin datang dari belakang dan memecah lamunanku, “Kamu masih suka tempat ini?”

Aku memandangnya bingung, “Aku bahkan sama sekali belum pernah ke sini, tapi…. Aku suka.”

Kevin lalu duduk disampingku, sambil melemparkan beberapa batu-batu kecil ke tengah telaga. “Dulu, waktu masih SMA aku sering banget ke sini sama temenku. Namanya Nadia. Dia Cantik, baik, periang, cerewet, dan aku sayang banget sama dia. Ditelaga ini biasanya kita sering menghabiskan waktu dari siang pulang sekolah sampai sore. Telaga ini udah kayak surga pribadi buat kita, karna jarang ada orang yang mau berkunjung ke sini. Soalnya tempat ini gak terkenal.”

Dia tertawa kecil lalu kembali bercerita.

“Dia sangat suka suara biola, makanya aku mati-matian belajar biola supaya bisa menghiburnya. Tapi dia pergi sebelum aku benar-benar bisa memainkan biolaku. Dia pergi ke luar negeri karena orang tuanya harus pindah ke Belanda dan dia harus ikut. Dua bulan dari kepergiannya aku kehilangan kontak, tiba-tiba aku mendengar kabar bahwa dia kecelakaan, dia amnesia. Yang membuat aku sedih, dia lupa sama semua kenangan masa lalu kami. Dia lupa sama aku, lupa sama tempat ini. Tapi aku akan tetap mencintai dia. Karna aku yakin, dia pasti bisa sembuh. Aku tidak pernah berusaha untuk melupakannya. Bahkan bertahun-tahun aku mencari dia dan berharap dia menyukai permainan biolaku sekarang.”

Dia berhenti sejenak lalu meneruskan ceritanya,

“Hari ini aku bersyukur, dihari pertamaku kuliah pasca sarjana ini, aku bertemu dengannya dan dia menyukai suara biolaku. Sebetulnya aku tidak sanggup untuk menyapanya, hanya saja aku benar-benar merindukannya. Tapi……. ketika aku menemukannya. Aku bahkan harus berkenalan lagi dengannya. Itu yang membuatku serasa hancur.” Dia menatapku dengan matanya yang sendu.

Aku tetegun mendengar ceritanya. Aku merasa heran, kenapa dia menceritakan masa lalunya pada orang yang baru dikenalnya sepertiku. Dan kenapa aku mau-maunya diajak pergi begitu saja dengannya. Namun, entah kenapa aku seperti merasakan apa yang dirasakannya dan ingin sekali menghiburnya.

“Nama temen kamu itu Nadia?” tanyaku.

“Iya. Kenapa?”

“Gak apa-apa.”

“Oh iya, Boleh aku tahu nama lengkap kamu, Ari?”

“Nadia Prameswari.” Jawabku singkat.

Dia menutup matanya kemudian menarik nafas panjang.

Tiba-tiba saja, aku merasa seperti begitu akrab sekali dengan tempat ini. Udaranya, ikan-ikannya, dedauan yang gugur, semuanya seakan benar-benar menyambut kedatanganku. Rasanya, seperti aku pernah ke sini sebelumnya.

***

Rima Novelta, September 3, 2011;04.35pm

»»  READ MORE...

Sabtu, Februari 25, 2012

'I' or 'I (;ai)' --> the different but the same





waktu saya lagi nyari huruf-huruf bentuk animasi buat nama saya (R-I-M-A), , huruf R ketemu --> langsung saya download, eh pas waktu nyari huruf I saya nemu bacaan ini nih, yang menurut saya bermanfaat banget and very interesting....

mari disimak....,,,,,,
judul artikelnya :

Menyelipkan Huruf 'I' pada kata 'Saya'

Isinya :

Hore, Hari Baru! Teman-teman.

Dalam sebuah perbincangan, seseorang berkomentar;”Mas Dadang Anda termasuk tipe pribadi egois,” katanya. ”Mengapa Anda mengira demikian?” kata saya. ”Karena Anda sering sekali menyebut kata ’saya’…” begitulah penjelasannya. Ini bukan dialog imajiner. Beneran terjadi 3 atau 4 bulan lalu disebuah kedai kopi yang menyediakan donat hangat. Saya tidak perlu tersinggung, karena memang saya sering menggunakan kata ’saya’. Semisal; ’menurut hemat saya..” Atau ”Saya tidak mengetahui hal itu.” Anda juga bisa menghitung, berapa kali kata ’saya’ ditulis dalam artikel ini. Namun, Anda tentu memahami bahwa kata ’saya’ yang digunakan secara tepat sama sekali tidak menggambarkan egoisme. Bahkan kali ini, saya sengaja mengajak Anda untuk berfokus kepada kata ’saya’ milik setiap pribadi. Sebab, ’saya’ adalah sebuah kata yang memiliki makna yang sangat dalam bagi setiap orang yang merasa memiliki nyawa.

Laptop ini sudah menemani saya lebih dari 3 tahun. Kinerjanya memuaskan. Namun, akhir-akhir ini salah satu tombol keyboardnya sering copot. Tahukah Anda tombol keyboard huruf apa yang copot itu? Tepat sekali. Tombol huruf ’I’. Saya sudah berulangkali memperbaikinya, namun tombol ’I’ itu copot lagi. Dan copot lagi. Setengah frustrasi, pagi ini saya bertanya; ”Ya Tuhan, ada apa dengan tombol ’I’ ini?” Ajaib sekali. Saya langsung mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Betapa saya telah banyak melupakan ’I’, serta betapa Tuhan telah menitipkan sang ’I’ itu kepada saya selama ini. Ingatkah Anda bahwa ’I’ itu berarti ’saya’? Oh, jangan-jangan selama ini saya terlalu sibuk memikirkan orang lain hingga melupakan diri sendiri. Padahal, orang yang ingin dekat dengan Tuhan pun dianjurkan untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami fungsi ‘I’ dalam diri sendiri, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:

1. Percayalah bahwa ‘I’ itu adalah Amanah tertinggi kita. Saya masih terus teringat nasihat guru kehidupan saya. “Engkau tidak akan ditanya tentang orang lain, Nak. Melainkan tentang dirimu sendiri.” Sungguh dalam, makna kalimat itu bagi saya. Kita, sering terlampau sibuk melihat, menilai dan mengomentari orang lain. Si itu begitu, si ini begini, sedangkan si ono begono. Mudah sekali mata kita melihat kelemahan orang lain. Gampang sekali telinga kita mendengar keburukan orang lain. Tapi tentang diri sendiri? Perilaku buruk yang setelah puluhan tahun kita pelihara pun tidak kita sadari juga. “Lihat kedalam dirimu sendiri, Nak.” Begitu kata beliau. “Dan engkau akan tahu, bahwa engkau tidak lagi punya waktu untuk mengungkit keburukan orang lain.“ Memang, sebagai seorang teman kita bisa menjadi pengingat bagi orang lain. Tapi apalah gunanya ajakan kita kepada kebaikan orang lain jika kita sendiri lupa untuk mengajak diri sendiri menjadi pribadi yang baik? Pundak kita tidak dibebani tugas untuk menjadikan orang lain baik sebelum diri kita sendiri. Karena ‘I’ adalah amanah tertinggi yang kita emban.

2. Setiap orang punya tanggungjawabnya sendiri. Perhatikanlah, betapa sering usilnya kita kepada urusan orang lain. Padahal urusan kita sendiri saja belum tentu beres. Dunia kita tidak akan menjadi tempat yang ‘beres’ kalau penghuninya hanya saling menunjuk hidung. Justru, kita bisa memiliki dunia yang lebih baik ketika setiap pribadi mau mengambil tanggungjawabnya sendiri. Dengan memastikan 100% tanggungjawab saya terpenuhi, maka itu sudah menjadi kontribusi bagi tercapai keadaan dunia yang kita idamkan. Anda? Cukup dengan menunaikan tanggungjawab Anda 100% juga. Mereka? Sama. Keruwetan yang terjadi kan lebih banyak disebabkan karena kita tidak benar-benar menunaikan tanggungjawab kita. Alih-alih malah kita memelototi orang lain hingga lupa bahwa tanggungjawab kita sendiri lebih membutuhkan perhatian dan penanganan. Maka jangan takut disebut sebagai pribadi yang egois, jika kata ‘saya’ itu Anda gunakan untuk mawas diri. Jangan khawatir divonis egosentris jika kata ‘I’ itu Anda pakai untuk mengambil tanggungjawab pribadi. Sebab ‘I’ berarti the only person who has all the responsibilities of every human being. Dan setiap orang, memiliki tanggungjawabnya sendiri.

3. Tidak ada yang bisa selamanya ada untuk kita. Jika seseorang bertanya pada Anda; Siapa yang bertanggungjawab pada hidup Anda? Maka Anda benar ketika menjawabnya dengan kata ‘saya’. Siapa yang harus menjaga harga diri Anda? Maka Anda pun waras jika juga menjawab pertanyaan itu dengan huruf ‘I’. Kepada siapa Tuhan menitipkan semua potensi diri Anda? Apakah Anda punya jawab lain selain ‘saya’ atau ‘I’? Tentu saja tidak. Sebab Ayah Anda. Ibu Anda. Pacar Anda. Suami Anda. Istri Anda. Body guard Anda. Tidak selamanya ada bersama Anda. Sedangkan satu-satunya ‘manusia’ yang selalu ada untuk Anda adalah diri Anda sendiri. Apakah itu berari kita tidak membutuhkan orang lain? Oh, tidak. Sama halnya ketika orang lain membutuhkan kita, maka kita juga membutuhkan mereka. Maka, dalam konteks ini; berfokus kepada diri sendiri adalah sebuah keharusan kodrati.

4. I sudah bukan lagi ‘i’. Bunyinya sama. Tapi peran, fungsi, dan posisinya sudah berbeda. Ketika sebuah ‘i’ bertumbuh kembang hingga menjadi ‘I’, maka pada saat itu seseorang dituntut untuk bisa bersikap dewasa. Makna dewasa tidak hanya berarti lepas dari ketergantungan kita kepada orang tua. Yang itu iya, karena nyatanya masih banyak juga orang-orang ‘dewasa’ yang masih mengganduli orang tuanya. Namun itu juga berarti dewasa di tempat kerja atau lingkungan lainnya dimana kita berada. Jika kita masih bekerja baik hanya jika takut dikenai sanksi oleh kantor, misalnya. Maka itu ciri jika kita belum dewasa. Begitu juga jika kita masih harus menunggu perintah dari atasan alias enggan mengambil inisiatif untuk berprestasi. Kedewasaan dalam hidup, kira-kira juga sejalan maknanya. Mengeluhkan hidup yang sulit, contohnya. Normal jika saat susah kita merasa sesak didada. Mengeluhkannya – apalagi kepada orang lain – sama sekali tidak menghasilkan solusi yang bisa menjaga harga diri kita. Percayalah, tak seorangpun terbebas dari tekanan hidup. Apakah mereka kaya, atau miskin. Ataukah mereka pejabat atau orang biasa. Saat ‘i’ sudah menjadi ‘I’, maka kita mesti belajar untuk lebih tabah menerimanya. Cukup kita sendiri bersama Sang Maha Pemberi jalan keluar saja yang tahu soal itu. Dan bersama Dia kita berikhtiar mencari penyelesaiannya. Bukankah itu yang kita sebut sebagai kedewasaan? Karena ketika ‘i’ sudah tumbuh besar menjadi ‘I’, kita dituntut untuk menjadi lelaki ‘atau perempuan dewasa.

5. Pertanggungjawaban ‘I’ kepada Sang Maha ‘I’. Dalam hidup dan mati kita ada 2 ‘I’. I yang pertama adalah ‘saya’. I yang kedua adalah ‘Ilahi’. Pertanggungjawaban tertinggi adalah pertanggung jawaban ‘saya’ kepada Sang Ilahi. Dengan segenap anugerah, kesempatan, keterbatasan, cobaan, kemudahan dan segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita; apa yang sudah kita lakukan dalam menjalani hidup? Orang yang dianugerahi ketampanan tidak selalu lebih mudah mempertanggungjawabkan perilakunya dibandingkan mereka yang wajahnya bisa-biasa saja seperti saya, misalnya. Yang cantik juga begitu. Orang kaya? Lebih mudah melewati sidang Tuhan dari si miskin? Hmm tidak juga. Kecantikan dan ketampanan. Kekayaan dan kemiskinan. Kemudahan dan kesulitan. Semuanya adalah elemen-elemen yang menuntut pertanggungjawaban. Jika kaya, misalnya. Hartamu dari mana dan digunakan untuk apa? Jika miskin? Bagaimana kamu bisa tetap menjaga harga dirimu ditengah kemiskinan itu? Jika cantik atau tampan? Bagaimana kamu bisa menjaga kesucian dirimu dengan balutan ketampanan dan kecantikan yang menghanyutkan. Semuanya, pasti membutuhkan pertanggunggjawaban sang ‘I’ kepada Sang Maha ‘I’.

Tombol keyboard ‘I’ pada laptop saya sudah diperbaiki. Belum copot lagi setelah perbaikan terakhir ini. Namun cepat atau lambat, tombol ‘I’ itu pasti akan rusak lagi. Bahkan bersama laptopnya sekalian. Sama dengan tubuh kasar saya yang akan musnah digerogoti cacing tanah lalu melebur menjadi debu yang menyatu dengan bumi. Meski laptop saya rusak, nanti. Tapi semua naskah, kalimat, dan kata yang pernah saya ketik akan tetap ada. Meski tubuh kasar saya sirna, namun semua tindakan dan perbuatan yang sudah saya lakukan juga akan tetap ada. Diantara tulisan yang hasilkan dengan laptop itu, ada yang tersangkut di situs-situs, facebook, twitter, milist dan email, dan ada juga yang tersimpan dalam hati seseorang. Begitu pula dengan catatan perjalanan hidup saya. Semuanya akan tetap tersimpan pada tempat-tempat yang sepatutnya. Karena semua perilaku kita, akan tercatat pada buku yang tidak pernah lapuk bernama lauhul mahfudz. Yaitu buku besar yang berisi catatan tentang perjalanan hidup setiap ‘I’ yang dimiliki oleh setiap pribadi. Sudahkah huruf ‘I’ Anda menuliskan naskah yang baik hari ini? Yuk, marrri.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman – 21 Oktober 2011
Trainer “Natural Intelligence Leadership Training”
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (Tahap editing di penerbit)
Natural Intelligence Leadership Training
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/

Catatan Kaki:
Akan tiba saat dimana setiap insan hanya berdiri sendirian dalam sidang yang hanya dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri.

Pesan si penulis :

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

In-house training 2 jam, setengah hari, 1 hari atau 2 hari dengan Dadang Kadarusman? Oh, bisa Banget. Hubungi 0812 1040 3327

Sumber :

dadang kadarusman-menyelipkan huruf 'I' pada kata saya
»»  READ MORE...

Sabtu, Januari 28, 2012

Gizi yang Baik Bagi Vegetarian

Vegetarian adalah sebutan bagi orang yang hanya makan tumbuh-tumbuhan dan, tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging dan unggas, namun masih mungkin mengonsumsi makanan laut seperti ikan, atau produk olahan hewan seperti telur, keju, atau susu.


Jenis-Jenisnya :

1. Semi-Vegetarian
Semi-Vegetarian, di samping makan makanan dengan bahan nabati. Kelompok ini juga mau makan ikan, daging, susu, dan telur. Jenis nabatiwan ini adalah kelompok yang paling rendah.

2. Lacto-ovo-vegetarian
Lacto-ovo-vegetarian, selain makan yang terbuat dari bahan nabati juga dimakan, susu dan telur juga dimakan.

3. Lacto-vegetarian
Lacto-vegetarian, meski selain bahan nabati yang dimakan tetapi hanya susu yang dimakan dan makanan yang terbuat dari telur tidak dimakan.

4. Ovovegetarian
Ovovegetarian, kelompok nabatiwan ini merupakan kebalikan dari Lacto-vegetarian.

5. Vegan
Vegan merupakan kelompok nabatiwan yang paling ketat. Mereka hanya mau bahan makanan dari nabati saja dan sama sekali tidak memakan hewan laut atau produk olahan hewani. Bahkan madu dari lebah pun dihindari. Saking ketatnya, para vegan juga menentang penggunaan produk non-makanan yang berasal dari hewan, seperti pakaian dan sepatu, dan produk yang diujicobakan pada hewan seperti beberapa jenis kosmetik dan obat-obatan..


--> Manfaat menjadi vegetarian

Menurut penelitian di Amerika, para nabatiwan lebih sehat, panjang umur, bahkan awet muda. Mereka juga terhindar dari penyakit jantung. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa serat dalam sayur dan buah amat berguna bagi kesehatan yang mengakibatkan populernya vegetarianisme di dunia. Diet vegetarian telah menunjukkan efek menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, dan mencegah terjadinya hipertensi pada orang normal. Penelitian juga menunjukkan wanita vegetarian yang telah memasuki menopause akan berkurang resiko penyakit jantung, kanker endometrium dan kanker payudara dibanding wanita dengan diet normal. Masakan Vegetarian merupakan jenis-jenis masakan yang menggunakan bahan-bahan nabati, atau non hewani yang tidak menggunakan daging sebagai bahan masakannya.


--> Food Vegetarian Pyramid


keterangan lebih lanjut klik di sini


--> Masakan bagi vegetarian

Variasi masakan vegetarian berkembang menjadi tidak hanya menggunakan sayuran sebagai bahan utama untuk memasak, namun sekarang telah dikembangkan bahan makanan vegetarian, yakni berupa hasil olahan tepung, atau jamur yang dapat membentuk semacam daging-dagingan seperti daging asli. Daging vegetarian ini ditujukan untuk membantu proses adaptasi seseorang yang akan menjalani diet vegetarian.
Alasan orang-orang bervegetarian adalah karena kesehatan. Dengan hanya mengonsumsi sayur-sayuran, risiko kita terkena penyakit berbahaya sangatlah kecil. Ada juga yang bervegetarian karena ingin tampil lebih cantik, ingin memiliki kulit yang halus dan bersih. Tidak hanya itu saja, bervegetarian juga dapat mengurangi pemanasan global yang ada di muka bumi ini. Industri peternakan menjadi salah satu penyebab pemanasan global di bumi dan juga menyumbang polusi yang cukup banyak, khususnya polusi udara. Selain pemanasan global dan polusi yang dihasilkan dalam industri, polusi juga dihasilkan dari proses pembuatan makanan bagi hewan.

»»  READ MORE...

Jumat, Januari 27, 2012

Baca Juga....

»»  READ MORE...

Baca Juga....

»»  READ MORE...

ORDINARY or The Extra ???: TERNYATA KAMU CINTAKU

»»  READ MORE...

TERNYATA KAMU CINTAKU



Mentari pagi tak terasa kini kembali memancarkan sinarnya. Menembus kaca jendela kamarku yang masih tertutup tirai putih yang tipis. Cahayanya yang begitu terang menyusup ke sesisi ruangan hingga ke sudut-sudut ruangan. Ayam jantan yang berkokok sedari fajar mungkin iri pada mentari ini. Karena suaranya yang nyaring tak sanggup menggoyahkan mataku untuk terbuka. Sedangkan mentari yang baru saja terbit telah sanggup membangunkanku dan memaksaku untuk bangkit dari tempat ini.
Akupun bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kaki menuju wastafel di dekat jendela kamar dan membasuh wajahku. Aku menumpukan tanganku di pinggiran wastafel dan melihat kaca. Aku hanya dapat melamun sejenak dan berusaha mengumpulkan kesadaranku yang tercecer-cecer karena ulahku semalam.

“Huffh.” Aku melenguh panjang.

Aku menghidupakan air keran wastafel ini dengan derasnya dan mencelupkan kepalaku ke dalam wastafel selama beberapa menit. Kemudian aku mengangkan kepalaku kembali dan mengambil handuk di sebelah kiri wastafel untuk kemudian mengelap air di rambutku.

Aku terduduk di lantai di ujung ranjang di kamarku dengan rambut yang basah dan masih meneteskan sisa-sisa air di ujungnya.

Tok.. tok.. tok..

Terdengar suara ketokan pintu. Dengan langkah malas aku menuju ke pintu dan membukanya.

“pagiiiii. Pasti kamu lapar deh. Aku bawa makanan nih.”
Dia langung menuju ke meja makanku yang terletak di sebelah ruang tamu.

“aku udah belanja ini semua dari tadi pagi. Karna di sini gak ada kompor jadinya aku beli makanan instan semua. Gak apa-apa kan. Ah lagian kamu juga selama ini doyannya makanan instan.” Katanya seraya menyiapkan beberapa hidangan untuk sarapan.

“nih makan.” Dia menyodorkan mie gelas lengkap dengan kentang goreng, dan kornet siap saji. “dan ini minumnya.” Dia kembali menyodorkan segelas susu murni ke hadapanku.

Aku menyendok mie dan kornet terlebih dahulu.

“lo gak makan?” tanyaku.

“aku udah makan tadi sebelum berangkat ke sini. Jadinya aku sarapan dulu, trus
belanja, trus ke sini. Dari tadi malem aku kepikiran kamu terus. Kata Hendi kamu diajakin Maria mabuk ya?”

Aku mengangguk sekali.

“kenapa?”

“gue kesal.”

“sama Lusi?”

Aku mengangguk.

“udahlah. Lusi tuh gak usah kamu pikirin lagi. Lagian dia juga pasti bahagia kok. Kamu dapet undangannya kan?”

Aku mengangguk.

“aku tahu ini mungkin sulit buat kamu. Tapi setidaknya kamu kan masih punya sahabat yang masih juga peduli sama kamu.”

“gue gak habis pikir kenapa Lusi bias setega itu ninggalin aku.”

“tapi setidaknya dia udah jujur kan sama kamu. Dia gak ngebohong kayak cewek-cewek lainnya. Yang alesannya misalnya pindah kuliah ke luar negeri lah, di suruh ortu tinggal di rumah tante yang ada di luar kota lah, atau apalah. Tapi Lusi jujur. Dia .. dia tetep jujur sama kamu.”

“iya. Bener dia jujur. Dia jujur kalo selama ini aku Cuma di jadiin selingkuhannya dia dan gue sebagai laki-laki gak terima. Ini namanya merendahkan harga diri gue. Okeh sekarang dia jujur. Tapi selama ini apa? Artinya gue dibohongin kan selama satu tahun. Dan gue harus menganggap dia baik Cuma karna di jujur sekarang.” Aku berdiri dan menghentakkan sendok dan garpu yang sedang kupegang.

Wajahnya merah menahan amarah. Dan bangkit dari tempat duduknya.

“okeh. Kalo elo emang marah sama Lusi. Fine! Gak usah marah-marah juga sama gue dong.”

Diapun beranjak pergi meninggalkan apartemen ini dan meninggalkan aku yang masih tertegun di depan meja makan ini.
Ya! Dia sahabatku. Mungkin satu-satunya sahabatku yang masih mau memikirkanku ketika aku sedang terpuruk seperti saat ini. Namanya Nayla. Tapi aku memanggilnya kucing. Karena matanya seperti kucing. Berbinar dan selalu ingin tahu. Cerah dan menyenangkan. Dan pagi ini aku telah membuat mata kucingnya yang indah itu memerah padam. Membuncahkan amarah.

15 menit berlalu. Aku hanya terduduk diam mengalah pada nasib.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara handphone.






Aku buka pesan singkat itu.




























Aku tersenyum membaca pesan singkat itu. Ternyata Nayla masih peduli padaku. Aku bergegas ke kamar mandi dan menuruti perintah Nayla untuk segera mandi.
Ketika aku keluar dari ruang pakaian. Aku melihat Nayla sudah duduk di sofa ruang tamu apartemenku.

“sejak kapan elo di situ?”

“dari tadi.” Katanya sambil tersenyum.
Mata kucingnya kali ini kembali berbinar-binar memancarkan keceriaan.

“udah gak gila lagi kayak tadi kan?”

Aku tersenyum dan menghampirinya. Aku duduk di sampingnya dan tersenyum lagi.

“menurut kamu?”

“kayaknya udah waras nih.”

Dan kamipun tertawa bersama.

“jalan-jalan yok, vin.”

“ke mana?”

“kemana aja. Aku bosen di rumah terus. Udah seminggu ini aku gak ada jalan-jalan kemana gitu.”

“bukannya tadi pagi udah jalan-jalan waktu beli belanja buat gue.”

“ah itu sih bukan jalan-jalan namanya. Aku pengen ke taman atau ke danau gitu.”

“okeh. Yok! Gue juga mau refreshing.”

Kami berdua pun beranjank menuju tempat parkir mobil milikku.

“kita ke mana nih?” Tanya Nayla penasaran.

“ke taman yang waktu itu gue tunjukkin sama lo. Mau?”

Nayla mengangguk dan tersenyum.

Setelah perjalanan selama 20 menit akhirnya kami sampai di sebuah danau. Pemandangan di sekitar danau ini tidak banyak berubah. Hanya beberapa pohon saja yang mulai gugur daun-daunnya yang coklat dan kering.
Aku dan Nayla duduk di tepi danau. Menikmati udara sekitar yang sejuk dan damai.

“Nay, bulan depan gue mau nyusul nyokap sama bokap gue ke Sidney.”

“liburan ya?”

“bukan Nay, bokap nyokap gue nyuruh gue pindah ke sana.”

Nayla menoleh dengan ekspresi kaget.

“kuliah kamu gimana?” tanyanya seperti tidak percaya. “kamu mau berhenti kuliah
gitu. Apa ini semua karna Lusi. Kevin, please…!”

“enggak Nay. Ini gak ada hubungannya sama Lusi. Nyokap gue udah lama nyuruh gue pindah ke Sidney. Tapi waktu itu Lusi gak izinin. Tapi sekarang karna udah gak ada lagi yang ngelarang gue jadi gue bakal ke Sidney. Gue bakal kuliah di sana.”

Nayla Cuma diam dan menatap lurus ke arah danau.

“gue ke sana buat belajar tentang perusahaan keluarga gue juga kok. Bokap gue pengen gue yang jadi penerus Plamitra Group.”

“kapan berangkatnya?”

“mungkin minggu depan. Itu kalo gak ada hambatan.”

“udah kamu urus semua keperluannya.”

“belum Nay.”

“kamu mau berangkat minggu depan tapi keperluan buat pindah belu juga kamu urus.”
Nada suara Nayla meninggi.

“kamu mau bantuin kan?”

Nayla menarik nafas panjang. “Okeh.”

Satu minggu berlalu. Tibalah saatnya aku berangkat ke Sidney.

“Nayla angkat dong.” Aku panik berbisik pada diriku sendiri.

Tuuttt… tuuutttt…. Tuuuuttt….

Yups di angkat, pikirku.

“halo Nay. Elo di mana? Elo tau kan kalo hari ini gue berangkat ke Sidney. 5 menit lagi gue take off nih.”

Tidak ada jawaban apapun dari seberang telepon.

“Nay, Nay. Elo di sana kan. Nay……”

Tut tut tut tut tut tut…..

Telepon terputus tiba-tiba. Ku cek pulsa mungkin saja habis. Ah! Masih cukup.
Pandanganku menerawang ke langit-langit bandara. Aku harus segera ke pesawat.

********************************

Dua jam kemudian aku sampai di bandara.

15 menit kemudian aku telah sampai di apartemen milik orang tuaku. Aku di sambut dengan gembira oleh mereka.

“ouh honey. Lets take a rest on your bedrooms fast. You look so tired. Sorry momma could’nt pick up you on airport. There was much work those I had to
finished.”

“it’s okay mom. I’m fine now.”

“you know honey. I miss you soo much.” Dan mama memelukku erat.

“I miss you too, mom.”

Aku menuju ke kamar yang telah dipersiapkan mama. Membenahi isi koper dan memindahkannya ke lemari yang desainnya menyatu dengan dinding. “Oh ini lemari ya, aneh sekali.” Pikirku.

Ketika sedang mengeluarkan barang-barang dari dalam koper tiba-tiba aku melihat sepucuk amplop biru terselip di antara lipatan-lipatan pakaian. Dengan rasa penasaran ku buka amplop itu dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. “ini surat.” Pikirku.



Aku sama sekali tidak menyangka bahwa perhatian Nayla selama ini adalah lebih dari apa yang kubayangkan, aku menyesal telah terlau mencintai orang yang seharusnya kulupakan, sementara ada orang yang selama ini sanggup untuk menerimaku tapi aku tidak menyadarinya. Apa karena aku terlalu takut untuk membuka hati? Atau karena aku tidak memperhatikan sekelilingku padahal sehari-hari mereka bersamaku?

“Keviiiiin. Ayo makan malam saying. Makanannya udah mom siapin.”
Aku kembali merenung sambil mengenggam surat itu. “Ya, mom. Five minutes later.” Mataku berlinangan. Kumenutup mata dan butiran-butiran berat itu menetes. “Aku lelaki, tak sepantasnya begini.” Batinku.

"Kev, what wrong with u dear? Any problem? Uhm,..u can tell it to mom… but, but if u want.”
Aku hanya diam, lalu mencoba berkata-kata. “mom, uhm… gini. Kevin punya sahabat…. Uhm, a girl.”

“ouh, yeah, yeah, I know.”

“no, no mom, not girlfriend.”

Mama menatapku tajam. “so?”

“only friend mom. Best friend. Dia kirim surat ini buat Kevin.” Aku mengulurkan surat dari Nayla kepada mama.

Mama membacanya dengan seksama dan “mama juga wanita, sayang. Mama tahu apa maksudnya ini. Wanita memang tidak harus mengatakan bahwa dia menyayangi seseorang, tapi wanita tetap punya kekuatan untuk memberikan kasih sayangnya. Kalau kamu tidak ingin mengecewakannya. So you must to come back to Indonesia. Meet her! Say what you wanna to say. I know you are a gentleman.”
***

Nayla Farissa

“Desain kamu sangat bagus, menarik dan persuasif. Saya setuju saja bila rekan-rekan saya juga setuju.”

Semua anggota rapat saling berpandangan kemudian mengangguk-angguk tanda setuju.

Prok. Prok. Prok.

Terdengar suara tepukan tangan dari seisi ruang rapat.

“Saya senang sekali bekerja sama dengan orang yang sangat kreatif dan sangat professional seperti saudari Nayla ini.”

“Ah pak Sigit terlalu berlebihan. Saya kan cuma menerapkan apa yang bapak inginkan dari banner itu. Itu saja kok. Kebetulan mungkin kita satu selera jadinya bagus gitu kelihatannya.”

“Ahahaha.. kamu mahasiswa yang hebat. Makanya saya suka sekali bekerja sama dengan mahasiswa, mereka begitu bersemangat. Oya, saya masih ada kerjaan lagi.
Good luck ya. Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi.” Senyumnya mengembang seiring dengan jabatan tangannya.
***

Saying I love you, it’s not the word that…..

Nada dering handphoneku berbunyi.






Klik.

“Hallo.”

“Kucing jelek, selamat ya desain advertising banner lo diterima. Gue barusan baca dari status facebook lo.”

“Oh ya. Makasih, Kev.” Aku menjawabnya dengan lesu.

“Uhm. Gue pengen ketemu lo Nay. Gue tunggu di tempat biasa. Jam berapapun lo dateng gue bakalan tunggu.”

“Bukannya kamu di……”

Tut. Tut. Tut. Tut. Tut…….

Telepon terputus.

Air mataku berlinangan jika harus menghadapi semua ini. bagaimana mungkin aku sanggup. Aku malu. Surat itu? Apakah Kevin sudah membacanya? Dan dia pulang ke Indonesia cuma untuk menertawakanku? Konyol sekali.
***

Kevin Palmitra

Aku melihat seseorang di depan bangunan ini. sedang berdiri lalu mondar-mandir perlahan. Seperti sedang memutuskan akan masuk atau pulang saja. Tangannya kini menggapai gagang pintu, agak lama dan lesu kemudian mendorong pintu yang bertuliskan ‘push’ itu. Aku tetap memperhatikannya. Langkahnya kini pasti, seperti hendak menghadapi perang. Dia menuju meja di hadapanku lalu duduk di bangku tepat di depanku.

“Kenapa ke Indonesia lagi. Gak nyampe Sidney? Nyasar? Atau udah gak bisa lagi bahasa inggris jadi gak diterima di Sidney? Heh?”
Aku tersenyum dihujani dengan pertanyaan-pertanyaannya yang kadang-kadang konyol dan tak terduga.

“Mama nyuruh gue balik ke Indonesia.”

“Kok gitu? Mama kamu kan yang nyuruh kamu ke Sidney?” dia mengernyitkan dahi, heran.

“Gue udah baca surat lo, mama juga, makanya mama saranin gue balik ke Indonesia.”

“Surat?”

“Iya, surat biru di koper? Dari elo kan?”

“Uhm itu, itu, aku, aku,” dia diam sejenak lalu berkata lagi, “pasti kamu mau ngetawain aku kan. Aku emang gak bisa bikin kata-kata bagus jadi…. Aku minta maaf, aku, aku, dari pada kamu ngetawain aku mending aku balik. Aku ada urusan, jadi mendingan aku cepet pulang. Daaghh..” Nayla cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya. Aku kemudian menahan tangannya.

“Nay, duduk dulu. Gue tahu lo lagi gak sibuk apa-apa. Elo ambil cuti kuliah kan.”
Nayla lalu kembali duduk.

“Dari mana kamu tahu?”

“Ahahaha. Lo sendiri yang cerita waktu itu mau ambil cuti kuliah.”

“Ooh. Aku lupa.”

“Nay. gue sangat menghargai perasaan lo. Gue kagum sama elo yang bisa sayang sama orang walau orang itu gak sadar sama perasaan elo. Kalo gue jadi elo mungkin gue gak akan kuat.” Semua kata-kata itu seolah terucap begitu saja.

“Kamu ngomong apa sih, Kev.”

“Nay gue tahu. Gue emang bodoh karena selama ini gue cuma mikirin hal yang harusnya gue lupain. Gue gak, gak tahu, gue dibikin buta sama perasaan gue sendiri.”

“Please Kev! Kamu ngomong apa sih. Aku gak ngerti.”

“Gue minta maaf Nay.”

“Soal surat itu lagi?”

“Iya Nay. gue gak pernah sadar sama lingkungan gue. Gue cuma mikirin diri gue sendiri.”

“Kalo soal surat itu. Gak, gak, Kev. Harusnya aku yang minta maaf. Gak seharusnya aku bikin surat itu. Ini salah, ini salah. Aku, aku…..” suaranya lemah, tercekat, matanya berlinang, wajahnya merah muda, padam. Menunduk.

Aku menggenggam tangannya, erat, erat sekali. Dia menganggkat kepalanya, tak berkata-kata. Suasana kini semakin serius.

“Gak ada yang harus disalahin karena emang gak ada yang salah. Kita gak harus mulai ini dari awal. Karna kita bisa lanjutin hidup kita kayak biasanya. Tapi ini bakal jadi lebih serius lagi. Gue akhirnya sadar kalo ternyata gue gak sendirian.”

Aku menatap matanya. Dalam, dalam sekali. Tulus, itu yang dapat kulihat dari matanya. Mata kucingnya yang bening terlihat sangat jujur. Nayla! wanita ini kini buatku gila dan sangat yakin bahwa masih ada cinta dalam diriku untuk kupersembahkan bagi orang-orang yang telah rela menyayangiku.

Begitu banyak hal yang tak sanggup kami katakan dengan lisan saat ini. hanya saling menatap dan mengeti. Aku menyentuh wajahnya. Hangat. Dan kini senyumnya begitu sejuk.


Morral Lesson :
Sering kali kita dibuat lesu dan putus asa atas kepergian orang yang kita sayangi. Malahan kita lebih memilih untuk berlarut-larut salam kesulitan dan kesedihan yang kita pertahankan. Kemudian tidak mempedulikan orang-orang di sekitar kita, bahkan terlanjur tidak memperhatikan perasaan mereka. Padahal sebetulnya kasih sayang dari mereka lah yang membuat kitadapat bertahan sejauh ini.



Rima Nove1lta, January, 08 2011;04.30pm
»»  READ MORE...