Esekusi Hati
Menapaki lagit-langit tak bertepi
Temani purnama yang menagis pilu
Dalam pelukan mendung haru kelabu
Merajut metafora di ujung malam
Sisa perjalanan di ujung gelap
Purnama beranjak tinggalkanku
Sepertiga malam kembali aku berhenti
Merangkum kata-kata tak aku fahami
Diantara bahasa dan hati yang mencekam
Apalah arti persahabatan tak berenergi
Mulai lelah ratapi rindu tak terkendali
Kemudian berakhir setelah muncul mentari
Bersama air mata aku mencoba
Memaknai semua rasa, nada, kata, sketsa jiwa
Menghakimi kegundahan perpisahan hati
Ilahi Robbi yang terakhir mengeskusi
Dariku yang takkan melupakanmu,
Surakarta, 16 Oct '09
Lima adalah Satu
Mata tak tahu kenapa saat ini dia harus pergi meninggalkan teman-teman satu atapnya. Rumah tempat dia mengalami semua warna-warni kehidupan. Suka dan duka dalam sebuah kehidupan sekumpulan anak manusia yang terikat dalam sebuah ikatan persahabatan.
Sempat Memiliki
Rian tiba-tiba membuka matanya, kaget. Ia menghela nafas panjang. Cuma mimpi.. ujarnya. “Tapi kok gue mimpinya kaya gitu? Kenapa ya?” Hujan deras dari semalam membuatnya terlena dalam tidurnya hingga ia bermimpi. Ia mendengar jelas suara hujan yang membasahi rumahnya di luar sana. Walau hujan, tetapi wajahnya sedikit berkeringat. Matanya melirik jam weker yang terletak di meja sebelah kanan tempat tidurnya.
Jam tujuh? Waduh..
HIDUP itu terlalu INDAH untuk ditangisi, tapi juga terlalu PAHIT untuk dinikmati...
TAPI hidup akan sangat BERMAKNA jika di HARGAI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar